Empatbelas Ramadhan
Pernah tidak bermain games yang judulnya ‘tanah beracun’ atau mungkin ada sebutan lainnya ya..? Mungkin ada. Permainannya ini menggunakan beberapa Koran atau alas tempat menginjak, yang jumlahnya lebih satu dari peserta yang ikut dalam permainan. Misalnya ada lima anggota dalam satu regu. Maka, diperlukan enam alas tempat menginjak. Setiap regu akan berlomba menuju finish, dengan cara masing-masing anggota regu menginjak satu alas, tersisa satu di bagian belakang. Pemain paling belakang akan meng-oper alas yang tersisa kepada pemain di depannya yang diteruskan ke pemain di depannya lagi, hingga sampai di tangan pemain terdepan yang kemudian diletakkan di depan alas tempatnya berpijak. Setelah itu, semua anggota berpindah kepijakan di depannya, hingga tersisa satu alas di belakang yang tidak digunakan untuk berpijak yang kemudian di oper kembali oleh pemain paling belakang. Begitu seterusnya, sampai di finish. (semoga berhasil menggambarkan games itu) ^_^
Kemarin, kami memainkan permainan ini di kelas. Dengan dua anggota tiap regunya dan menggunakan tiga alas. Setelah semua mendapat giliran dan bermain dengan penuh kegembiraan. Masuklah kami kemali ke dalam kelas. Lalu ku-ajukan pertanyaan kepada teman-teman kecilku, ”Dari permainan kita tadi, kita belajar apa ya, teman-teman..?” (baru kali ini, aku tanyakan hikmah dari permainan kepada mereka. Biasanya, aku langsung menjelaskannya) Jika orang dewasa memainkan permainan di atas, dan ditanyakan hikmahnya, maka jawaban yang kita peroleh adalah ”bekerja sama”. Sedangkan si kecil Tika menjawab, ia belajar ’memberi’ dan Syamil menambahkan bahwa pelajaran dari permainan itu adalah ’berbagi’. Hmm..
Aku sepatu (sepakat dan setuju) dengan jawaban mereka. Walaupun akhirnya, aku coba jelaskan tentang kandungan kerjasama dalam permainan itu. Tapi, jadi nge-pas juga kesimpulan mereka itu dengan agenda kami esok hari (hari ini). Kami akan pergi ke panti asuhan. Setelah sebelumnya, semua teman mengumpulkan sumbangan untuk kami bawa ke sana. Selain itu, aku menyarankan saat berkunjung, mereka boleh membawa sumbangan yang lain, yang bisa diberikan langsung kepada sahabat di panti. Misalnya, mainan, buku dan benda-benda bermanfaat yang layak pakai. Membicarakan ini, mereka sangat antusias dan mengungkapkan keinginan masing-masing untuk membawa sesuatu. ”Saya mobil-mobilan, bu.”, ”Saya bawa buku, bu.” Dan lain-lain yang aku perkenankan, selama benda-benda itu mereka bawa dan disumbangkan atas izin orang tua mereka.
Tibalah hari untuk pergi ke panti asuhan. Teringat antusiasme teman-teman kecilku kemarin, akan keinginan mereka membawa sumbangan tambahan. Ternyata, tak banyak yang ingat untuk membawanya. Ada Raya, dengan kantung plastik kecil berisi sesuatu yang tak terlihat olehku dan tidak kutanyakan padanya tentang bawaannya itu. Yutia menenteng sebuah jaring berisi bola-bola kecil yang cukup banyak. Dira membawa katung palstik yang cukup besar, berisi beberapa boneka mungil. Serta Tika yang menunjukkan dua buah buku tulis tebal yang masih baru. Alhamdulillaah..
Berangkatlah kami ke panti asuhan, yang letaknya cukup jauh dari sekolah kami. Teman-teman perempuan naik kendaraan jemputan. Sedangkan teman-teman laki-laki ikut mobil salah satu orang tua murid. Perjalanan yang sangat ramai. Penuh dengan celotehan riang, senandung senang dan jeritan keceriaan. Hehe.. rame lah pokoknya.
Sampai di panti, kami berkumpul di masjid milik yayasan pengelola panti. Teman-teman kecil dan bu guru duduk menghadap ke arah mimbar. Di sebelah kanan ada ibu-ibu komite sekolah kami dan di sebelah kirinya ada sahabat-sahabat dari panti. Yang cukup membuatku kaget. Anak-anak panti ini, ga ada yang seumuran teman-teman kecilku. Hehe.. jadi kepikiran dengan bawaan Raya, Yutia, Tika dan Dira tadi. Buku tulis Tika, mungkin nyambung. Tapi, boneka dari Dira, bola-bola bawaan Yutia dan isi plastik Raya..?? (disambung-sambungin ajalah) Aaaaaaaaaaah.. sudahlah. Niatnya sudah baik, semangat berbaginya sudah bagus. Alhamdulillaah.. saat teman-teman memberikan hadiahnya, sahabat-sahabat dan kakak-kakak dari panti malah dengan penuh kegembiraan menerimanya. Sambil mencubit-cubit pipi teman-teman karena gemas.
Semoga menjadi pemberian yang bermanfaat dan berkah. Amiin yaa Rabbal’aalamiin
Ramadhan.. bulan berbagi..
Memang penting memperhatikan apa yang harus kita berikan.. Namun, apapun yang kita berikan, Allaah tentu tahu kita hanya punya satu tujuan. Membagi kebahagiaan..
Related posts:






