14 Ramadhan 1432
Ramadhan tahun ini, sungguh mengharukan. Laporan-laporan orang tua teman-teman kecilku tentang anak-anaknya yang semangat berpuasa. Well, piala Ar Rayyan sangat memotivasi mereka untuk berpuasa satu hari penuh. Alhamdulillaah..
Namanya juga puasanya anak-anak. Terdengar pula kisah-kisah lucu dari rumah yang akhirnya sampai pula ke sekolah. Kegetolan ibu guru di sekolah dan orang tua di rumah, menambah daya juang teman-teman kecil untuk semakin rajin puasanya. Namun, juga menghadirkan momen-momen seru dan lucu dalam hari-hari ramadhan.
Motivasi itu, datang dari cerita-cerita. Lagu-lagu dan tepuk puasa yang dilakukan dengan semangat.
Seorang rekan guru, memiliki keponakan yang merupakan satu di antara teman kecil yang berada dalam kelas asuhanku. Ia menceritakan keponakannya yang berpuasa, kemudian berbuka di tengah hari. Namun, ia melanjutkan puasanya hingga berbuka. Keponakannya, si Hafidh itu, kuat lho berbuka kembali setelah bedug maghrib. Hehee.
Tetapi, ada satu kebiasaan yang dilakukan Hafidh di tengah-tengah waktu puasanya. Hafidh suka sekali ‘celup-celup’.
Apakah yang dimaksud ‘celup-celup’..? Hafidh beberapa kali terlihat membuka lemari pendingin. Bila melihat sisa susu dalam gelas, maka Hafidh memasukkan jari telunjuknya ke dalam gelas itu, hingga menyentuh cairan susu. Setelahnya, jari telunjuk yang basah melayang dengan cerdas, menuju ke mulutnya. Well.. Celup-celup berhasil. Setiap kali diingatkan kalau dirinya sedang puasa, Hafidh akan berkata, “Cuma celup-celup aja kok.”
Biasalah, jika bermasalah di rumah, maka jurus ampuh orang tua adalah meminta anaknya dinasihati di sekolah. Aku putuskan untuk membuat sebuah cerita tentang seorang anak yang puasa.
Dalam cerita itu, sang tokoh adalah anak yang berperilaku mirip seperti Hafidh. Walau sedang puasa, ia masih sering buka-buka lemari pendingin, meja makan dan menanyakan makanan. Selain itu, aku tambahkan satu hal yang tidak boleh dilakukan kala puasa. Satu hal ini aku dapat dari sebuah status di facebook.
Pemilik status bercerita tentang anaknya yang sedang latihan berpuasa. Di satu siang, sang anak terlihat baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Sang ibu bertanya,
“Minum ya, nak..?”
Buah hatinya menjawab, “Iya ummi, tadi saya minum air kran. Saya kan jujur ya, ummi.”
Nah, aku masukkanlah kisah puasa sang anak yang diam-diam masuk kekamar mandi, untuk minum dari air kran. “Ayooo.. Boleh tidak kalau begitu teman-teman..?”, tanyaku.
Serentak mereka menyahut, “Nggak boleeeeh.”
Syukurlah.. Jadi lega. Tidak terdengar lagi laporan tentang Hafidh yang ‘celup-celup’.
Dua hari kemudian. Seorang ibu, menemui partnerku di kelas. Ia bercerita tentang anaknya yang berpuasa. Biasanya, selama puasa, Nawwaf selalu pulang sekolah dalam keadaan lemas. Namun, kemarin, ia pulang dalam keadaan segar bugar. Saat dicek oleh sang ibu,
“Nawwaf tadi di sekolah makan ya..?”
“Nggak.”
“Minum..?”
Nawwaf diam sejenak. Kemudian menjawab, “Iya ummi, tadi Nawwaf minum air dari kran di sekolah.”
Astaghfirullaah.. Itu memang muncul dari pikiran Nawwaf atau terinspirasi dari ceritaku ya..??
Menepuk dada dan mengelus kepala. (Jiaaah.. Kebalik dah)
Jadi belajar.. Hati-hati dengan ceritamu. Ayah bunda dan guru. Apa yang dilakukan oleh anak yang satu, belum tentu dilakukan oleh yang lain. Memang penting punya cerita yang inspiratif. Tapi, kalau begini modelnya. Sayang juga puasa si anak.
Tak disangka memang. Pula tidak sengaja. Namun, perlu lebih hati-hati sehingga tak tertanam dalam hati sang buah hati.
Salam untuk ananda..
*Telah di publish di*
http://beritaihima.com
Related posts:






