10 Ramadhan 1432 H
Menonton sebuah acara di televisi tadi pagi. Sewaktu sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah.
National Geographic, menayangkan sebuah film dokumenter tentang sebuah bencana alam yang pernah terjadi di Amerika.
Karena sambil wira-wiri, jadi tidak detil menonton keseluruhan film tersebut. Namun, aku coba ceritakan ya..
Di Amerika, ada sebuah Gunung Berapi. St Helen namanya. Para pakar gunung berapi kala itu, memprediksi bahwa St Helen akan meletus. Setelah diteliti sedemikian rupa oleh para ilmuwan di sana. Maka diyakini, bahwa St Helen akan meletus dengan cara yang biasa. Mmm.. Adalah cara meletus yang tidak biasa..? Hehee. (Ups.. Kembali ke HP) Begini, biasanya.. Sebuah gunung berapi yang meletus, akan memuntahkan magma-nya secara vertikal, lurus ke atas, sehingga debu dan seluruh isi perut gunung akan terlontar tepat ke arah puncak dan akan membuat bagian puncak itu berlubang. Begitulah..
Berdasarkan perhitungan tersebut, maka ditentukanlah batas kemungkinan wilayah sekitar St Helen yang akan terkena dampaknya. Batas itu dibuat rata ke sekeliling gunung. Misalnya, kalau ke timur, bagian yang akan terkena debu atau rusak akibat letusan adalah 3 kilometer. Jadi, bagian utara, selatan dan barat pula ukurannya juga sekitar kurang lebih 3 kilometer.
Disebutkan di film tersebut. Pada tanggal 18 Mei, St Helen meletuslah. Namun, St Helen adalah St Helen. Ia menunjukkan bahwa ia berbeda. Hari itu penduduk sekitar wilayah St Helen yang diperkirakan akan terkena muntahan lahar, segera dievakuasi. Ternyata, St Helen tidak meletus dan mengeluarkan isinya ke arah puncak. St Helen meletus pada bagian lerengnya. Sehingga prediksi kerusakan menjadi tak benar. Lahar dan debu panas menyerang wilayah yang berada di bagian timur dan utara. Sedangkan barat dan selatan terbebas dari lahar. Hanya terkena debu saja. Akibat dari itu, kekuatan semburan yang tidak terbagi kebanyak arah, membuat lahar dan debu, tidak hanya meluncur pada jarak yang awalnya sudah diperkirakan. Namun, wilayah yang terkena dampak letusan menjadi beberapa kali lipat jauhnya ke arah timur dan utara itu. Korban pun berjatuhan.
Para korban menyalahkan para ilmuwan yang tak benar dengan prediksinya. Menyalahkan pemerintah yang tidak mengambil langkah yang lebih siaga. Menyalahkan banyak lagi, karena telah membuat kehidupan mereka menderita bertahun-tahun. Karena, kebanyakan korban mengalami luka bakar parah yang mengharuskan mereka minum obat penghilang rasa sakit selama bertahun-tahun. Sedangkan beberapa di antaranya, memang sedang berada di wilayah yang cukup dekat dengan St Helen kala itu. Tapi, mereka tetap lebih merasa nyaman bisa menunjuk banyak ‘kambing hitam’ atas penderitaan mereka.
Panjang ya ceritanya..
Aku pernah kehilangan banyak file dalam satu flashdisk. Di dalamnya ada beberapa tugas yang mesti dikumpulkan saat kuliah. Sorenya, aku berniat nge-print satu tugas. Namun, si flashdisk menghilang entah kemana. Saat malamnya mau dikumpulkan. Aki berkata pada sang Dosen, “Tugas saya nggak ada bu. Soalnya flashdisk saya hilang.” Kalimatnya memang begitu lho. Aku menyalahkan si flashdisk.
Seorang rekan kerja pernah sangat terlambat datang ke sekolah. Ketika ditanya oleh kepala sekolah atas keterlambatannya, ia berkata, “Kunci saya keselip bu. Nyarinya lama.” Dan.. teman itupun menyalahkan kunci motornya yang keluyuran nggak pakai izin. Hahaa.
Pernah ikut sebuah training. Sang trainer mengatakan, bahwa seorang pemimpin, tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Karena seorang pemimpin, fokus pada perbaikan. Seperti hal-nya dahulu sebelum zaman pesawat telepon dan HP. Kita menyalahkan sulitnya komunikasi. Kemudian saat semua sudah punya HP pun, kita masih menyebutkan ‘kambing hitam’nya adalah masalah komunikasi.
Tantangan bagi kita adalah membuat hal-hal di atas bukannya menjadi sebuah kesempatan yang baik untuk mencari siapa atau apa yang bisa disalahkan. Namun, jika kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap semuanya. Maka sepertinya masalah sekecil kunci yang terselip dan kehilangan flashdisk berikut file-file penting adalah kesalah kita.
Jika kita menyalahkan barang atau orang atas sebuah masalah. Maka kita tak lagi merasa perlu memperbaiki diri. Karena yang bersalah adalah kunci, ilmuwan dan flashdisk. Kita tidak akan menengok seberapa penting, punya tempat yang tetap untuk kunci-kunci kita. Kita juga tidak akan berpikir, seberapa perlu, kita punya beberapa backup file penting dan bukannya hanya disimpan di satu flashdisk. Kan bisa copy juga ke komputer, titip di komputer kantor mungkin. Atau mengenai bencana, kita mungkin begitu menikmati hidup, sehingga tidak memperhatikan berita-berita penting.
Jika ada masalah, tengoklah, sudah seberapa besar usaha kita untuk mencegah hal itu terjadi. Seberapa teliti manajemen kita terhadap kehidupan kita, demi meminimalisir masalah-masalah kecil. Bila masalah itu terjadi.. Masukkan ia ke dalam topi pikirmu.. Kemudian sulap ia menjadi tantangan. Di kala masalah hanya membuat kita pusing. Tantangan akan mendorong kita menyelesaikannya.
So.. No more Black Goat yaa..
Related posts:





