Judulnya kayak gado-gado. Maklum, isinya juga agak ngalor-ngidul.
17 Ramadhan 1432 H
Kedisiplinan, merupakan hasil yang diperoleh dari pola asuh yang tegas. Mungkin terlihat akan mirip dengan diktator yang pemarah. Tapi, saya yakin keduanya merupakan hal yang berbeda.
Beberapakali, bertamu ke rumah kenalan yang memiliki anak usia 2-10 tahun. Kebanyakan anak-anak mereka memiliki perbedaan perilaku antara di sekolah dan di rumah. Saat di rumah, mereka terlihat berlarian tak menentu, menaiki meja, lemari dan perabotan. Meskipun sedang ada tamu. Anak-anak yang berperilaku seperti ini, beberapa di antaranya akan melakukan hal yang sama di tempat umum (masjid misalnya)
Namun, setelah diperhatikan. (bagi yang sempat saya perhatikan, karena mereka adalah murid-murid saya) Mereka tidak melakukan hal seperti itu di sekolah setiap saat mereka mau. Mereka hanya boleh melakukannya ketika memang diperbolehkan. Karena peraturan yang berlaku adalah, semua ada waktunya. Jadi, bila telah ditetapkan hari itu ada aktivitas memanjat lemari, menaiki meja, membalik kursi, baru mereka boleh melakukannya. Karena ini memang termasuk stimulasi yang akan melatih motorik mereka.
Ketegasan dalam menegakkan peraturan yang telah disepakati bersama adalah mutlak. Pun sanksi juga dibicarakan bersama. Ketika semua sudah setuju. Maka ada tiga peringatan, saat mereka melakukan kesalahan. Setelah peringatan ketiga, barulah sanksi dijatuhkan.
Bila anak melakukan pelanggaran terhadap peraturan, apalagi sudah sangat berlebihan. Satu yang perlu kita perhatikan. Kuasai diri. Saya berusaha melakukan teguran kala sudah berhasil menguasai ketegangan dalam hati. Tentu ada rasa kurang senang, jengkel, atau sebut apa saja. Saat kita menegur anak, dalam keadaan marah dan jengkel, bahasa tubuh akan sangat terbaca oleh anak. Baranya terpancar di mata, pegangan tangan kita terhadap tubuh anak, akan terasa menyakitkan, meskipun kita tidak bermaksud demikian. Anak fokus pada amarah di dalam diri kita. Bukan pada kalimat teguran dan nasihat atau apapun yang sedang kita ucapkan kepadanya. Itulah yang menyebabkan, mengapa sering terjadi pelanggaran terhadap peraturan dan nasihat kita. Anak-anak, tidak mendengarkan lisan kita. Tapi, merasakan takut atas amarah kita.
Pernah melihat seorang guru, yang melengking tinggi akibat pelanggaran yang dilakukan muridnya. Ia menarik tangan sang murid, hingga si kecil mungil itu terpaku menatap wajah sang guru. Aura kemarahan terasa pada pandangan saya. Amarah itu, menyebabkan sang guru lupa merendahkan tubuhnya agar matanya sejajar dengan muridnya. Ia kemudian menasihati dengan suara tinggi dan membelalakkan matanya. Ehem.. Dia benar-benar marah.
Kita tidak perlu menjadi galak demi mendapatkan rasa hormat. Apalagi menjadi pemarah untuk bisa didengarkan.
Mmm.. Saat terjadi pelanggaran yang berlebihan. Kuasai diri.. Kuasai diri.. Kuasai diri. Baru kita bisa menegur ananda.
Saya termasuk guru yang lumayan menegakkan peraturan. (meski sesekali terlupa: harap tidak ditiru)
Dan menurut saya, juga yang paling sering memberikan sanksi pada murid yang melakukan pelanggaran. Seringkali malamnya suka nangis ingat teman kecil yang menerima sanksi. Semoga semua berlapang hati dengan usaha saya untuk bertegas-tegas ria.
Hingga ramadhan ini, bertemu dengan nenek dari seorang taman kecil yang paling sering saya beri sanksi. Sang nenek bercerita,
‘Alhamdulillaah si ‘ini’ udah shaliih. Makasih bu Fian ya. Soalnya si ‘ini’ pernah beberapa kali nggak mau sekolah di SD. Katanya ingat bu Fian. Soalnya, guru di sekolah yang sekarang nggak sama dengan bu Fian. Kalau sama Bu Fian, sering dipeluk.’
Huwaaaa.. menangis deras dalam hati. Imbasnya, mata berkaca-kaca. Langsung dipeluk sama si nenek.
Syukurlah.. teman kecilku tidak mengingat masa-masa diberi sanksi. Jadi pengen peluk lagi.. T.T
Related posts:






