Sembilan Ramadhan
Hari ini, teringat peristiwa kemarin.
Setelah sehari sebelumnya, menerima sms dari seorang akhwat. Griya Qur’an: Tahsin, bersama ustadzah Ruqayyah, dari Arab Saudi. Di Masjid Al Rahmah, komp. Sepinggan Pratama.
Bergejolak rasa, sejak membacanya. Hingga gelap bergulir, tak sabar rasanya menanti esok. Bergema selalu asal dari ustadzah tersebut. Arab.. Arab.. Arab.. Arab.. Arab. Paling suka dengerin orang berbahasa Arab. Paliiiiiiing dah. Meski banyakan ga ngertinya.
Apalagi native speaker, lebih laziiiiiz pastinya untuk didengarkan. Sekali lagi, meskipun ga ngerti.
Esok itupun telah datang. Pulang dari sekolah, langsung menuju ke Masjid tujuan. Karena undangan diharapkan bisa shalat dzuhur bersama. Ternyata, sampai di Masjid, bersamaan dengan dua orang saudari yang juga baru tiba. Masjid masih kosong. Bahkan, pintunya belum dibuka. Kami sedang ngobrol di beranda Masjid, ketika beberapa menit kemudian, pengurus Masjid membuka pintu yang tadinya terkunci. Setelah sebelumnya mendapat amanah untuk merubah posisi hijab menjadi letter U, jika shalat dzuhur telah selesai. Demi menjaga kenyamanan bagi sang ustadzah. Karena beliau menggunakan cadar.
Dimulailah acara itu. Masuk sosok wanita dengan busana hitam-hitam. Wajahnya tertutup rapat. Ketika cadarnya dibuka, berdecaklah setiap hadirin,yang semuanya wanita. Subhaanallaah. Kecantikan tanah Nabi. Semua tak lepas memandangnya. Pandangannya teduh, wajahnya bersih. Hingga terasa olehku aura keshalihan yang terpancar melalui tatapannya. Muncul debaran yang luar biasa di hati ini, mungkin juga hadir rasa yang sama di hati para hadirin. Atau aku yang lebay..? @_@
Kemudian, bicaralah sang ustadzah. Lembut, merdu, syahdu. Subhaanallaah. Getar yang tadi mereda, kembali lagi.
Pernah tidak kawan, belajar bahasa Arab. Diriku pernah, dan subhaanallaah gampang-gampang sulit. Itupun masih dasar. Jadi lom bisa dibilang, sudah bisa. Setelah belajar, selalu mencoba mengerti isi pembicaraan orang lain dalam bahasa Arab. Tapi, maasya Allaah, perlu usaha keras untuk sekedar mengangguk tanda mengerti. Apalagi mesti menanggapi dengan bahasa Arab. Perlu lebih dari sekedar satu mata kuliah 2 sks. Subhaanallaah. Bahasa nan indah.
Telah membaca shirah, pada bagian dimana dakwah mulai berjalan dengan terang-terangan. Kala Ibnu mas’ud membacakan ayat-ayat kepada objek dakwahnya. Para objek dakwah yang kemudian tersedu, terharu, menangis sesenggukan dan mengatakan, “Sungguh aku tidak pernah mendengar kalimat seindah ini. Apa yang harus kami lakukan untuk dapat memeluk agama ini..?” Begitulah.. meski banyak yang menolak, toh semua mereka mengakui keindahan bahasa al qur’an yang luar biasa.
Mencoba menangkap hikmah dari shirah dan hal yang berlaku padaku di Masjid Al Rahmah.
Biasanya, itu tadi, kesulitan mengerti ketika seseorang berbicara dengan bahasa Arab. Tapi, kemarin itu agak luar biasa tampaknya. Hampir setiap kalimat dari ustadzah, bisa aku mengerti. Setiap rangkaian katanya, seperti sebuah melodi indah yang mengalun jernih di telingaku. Aku tak perlu sulit mengangguk, tak perlu berusaha kerasa untuk mempertajam pendengaranku. Aku hanya perlu duduk, menatap ke arah ustadzah dengan penuh konsentrasi. Tak lepas kupandang ustadzah dengan antusias. Serasa ingin menimpali apa yang dibicarakannya. (Walaupun, nyatanya aku hanya diam) Namun, tetap bersyukur, hari itu, Alhamdulillaah.. merasakan lezatnya bahasa Arab.
Sepulang dari Ar Rahmah, terasa lega, lapang dan penuh gembira. Aku berpikir, mencoba menemukan penyebab terjadinya. Maka, inilah yang aku dapat.
Jika hari biasa, maka itu adalah hari biasa. Interaksi dengan hal yang berbau bahasa Arab, adalah sesuatu yang sangat kurang. Berkomunikasi dengan bahasa dalam negri, membaca banyak hal dengan bahasa lokal, menuliskan rangkaian kalimat dalam bahasa yang sangat aku kuasai. Yaa, bahasa yang saat ini kugunakan dalam tulisan ini. Itulah mengapa, biasanya sulit mengerti bahasa Arab.
Namun, ini adalah ramadhan. Dimana telah sepekan, berusaha bersahabat dekat dengan al qur’an. Mencoba lebih erat menjalin hubungan indah, tak seperti biasanya. Mencoba memenuhi setiap waktu dengan alunannya menghiasi ruang dengar. Demi itu, selain di sekolah, tiada suara lain, kecuali al qur’an menjadi teman setia. Berusaha.. berusaha dan berusaha. Meski akhirnya, ada saja senandung-senandung lain yang mampir menyelanya. Setelah tilawah, memaksakan diri untuk membaca terjemahnya. Jadi tahu kisah dan hikmah dari surat yang telah dibaca. Begitulah, hal ini yang mungkin membantu otak bekerja lebih hebat dari biasanya. Hingga yang sulit menjadi mudah, yang tak mengerti menjadi mengerti. Kuasa Allaah atas seorang manusia. Atau karena yang dibicarakan oleh ustadzah kemarin, adalah sesuatu yang familiar..?? Wallaahua’lam.
Itulah, mengapa orang Arab atau objek dakwah dari bangsa Arab atau orang yang mengerti bahasa Arab, bisa berderai air mata kala mendengar ayat-ayat cinta dari Allaah. Mereka mengerti, mereka paham apa yang sedang disampaikan kepada mereka. Sehari-hari, mereka berinteraksi dengan bahasa itu. Telah menjadi satu dengan hembusan nafas dan aliran darah mereka. Hingga mudahlah ayat-ayat itu merasuki jiwa-jiwa mereka dengan hidayah. Keindahan bahasa yang tiada tandingannya. Bahasa langit yang disyi’arkan di bumi. Mencoba merubah manusia-manusia fana menjadi mulia. Semulia-mulianya makhluk. Ingin bisa begitu, seterusnya.. mengertinya, hingga mampu menganggukkan kepala.. T.T
Wallaahua’lam..
Yaa Allaah mudahkan kami memahami ilmu. Buka setiap penghalang yang menjadikan kami jauh dari ilmu. Meminta kepada-Mu, Yaa Rabb Maha Pemberi segala. Karena setiap jengkal semesta. Ada digenggaman-Mu nan Perkasa. Amiin yaa Rabb
Related posts:






