Terkadang, ruang kuliah adalah tempat refreshing paling menakjubkan. Kala riak yang monoton, rutinitas yang datar memaksa setiap saraf-saraf pikir dan sendi untuk tegang. Meskipun seringkali, ruang kuliah pula lebih banyak menghantarkan kita pada penjelajahan ilmu nan kurang menyehatkan. Hehe. Kapan-kapan kita bahas, penjelajahan macam apa di perjalanan ilmu yang membuat seseorang berjabatan murid, siswa atau mahasiswa menjadi tak sehat.
Memulai semester tiga dengan beberapa gerutuan dan perasaan sedikit tidak terima. Biasanya, di semester satu dan dua. Setiap hari, kami hanya menerima satu mata kuliah. Sedikit santai dan agak seenaknya. ^^ Di semester ini, harus menjalani dua mata kuliah setiap harinya, kecuali hari rabu. Jadi, yang dahulunya pulang sebelum maghrib, kali ini mesti kembali ke rumah bertemankan bulan dan payungan langit malam. Namun, sungguh bersyukur, perjalanan di kegelapan dengan taburan bintang. Sajian alam nan menginspirasi.
Hari ini, hari pertama menikmati salah satu mata kuliah di jam malam itu. Nama mata kuliahnya tu.. Pengajaran Moral Pada Anak Usia Dini. Pernah mendengar dari beberapa teman, mengenai dosen pengajar mata kuliah ini, yang memang baru membimbing FKIP PG PAUD di semester ketiga ini. Satu kesimpulan dari cerita itu.. DOSEN YANG MENYENANGKAN. Semoga tidak salah menyimpulkan. Begitu pikirku.
Hingga masuklah beliau.. JREEEEEEEEEENG.. Dosen berwajah ustadz, berpakaian Tompi, dan berpikir seperti Mario Teguh dan Habib Rizieq, juga seberani itulah beliau. Bayangkanlah.. Mmmm.. (itu menurutku..)
Satu setengah jam, 12 mahasiswa dari berbagai usia terpaku, terpukau dan terguncang…. tubuhnya, karena proses belajar yang segar dan sekali lagi kugunakan kata ini dalam satu artikel.. MENGINSPIRASI.
Aku tak sanggup menghitung berapa kata hikmah yang ia sampaikan. Berapa banyak butiran pelajaran moral yang beliau berikan pada kami. Namun, satu setengah jam itu, sungguh luar biasa. (ini menurutku lagi..)
Satu momen di antara beberapa adegan pada satu setengah jam itu.
Ketika beliau mengajukan satu pertanyaan kepada semua mahasiswinya. Mana yang anda pilih.. CEPAT atau TEPAT..?
Semua mahasiswinya dikelas itu memilih CEPAT.
”Oke, terimakasih.. ternyata semua memilih jawaban yang salah.”, kata beliau sambil tersenyum.
Otakku berputar.. Hmm. Apa maksudnya si dosen ya..?
Hingga beliau bertanya, ”Menikah itu menurut anda tepat tidak..?”
Ketika yang lain ragu, termasuk aku yang hanya meggumamkan kata ”tepat”.
”Haha.. kenapa ragu”, tanya beliau. ”Tentu saja menikah itu tepat. Namun, bagaimana, seseorang menikah di usia 40.. 45 tahun punya anak.. lalu usia lima puluh ia meninggal.”, beliau diam sejenak.. kemudian bertanya.. ”Tepatkah itu..??”
Semua diam.. kupikir semua sedang mencernanya dan sampai pada pendapat bahwa itu ”tidak tepat”.. bahkan ”menyedihkan”..???
Beliau mengakhirinya dengan kalimat ini,
”Anda harus CEPAT mengambil keputusan, hingga anda bisa nikmati keberhasilan lebih cepat. Kalaupun gagal, anda masih punya banyak waktu untuk membangun keberhasilan itu.”
Hingga pulang bersama para bintang, sambil mempercepat si Princess Jupi-ku. Hal itu terbawa, mengelilingi ruang rasa dan akalku. Hingga tak kusadari Jupi telah berlari sangat cepat. Aku berhasil mendahului beberapa pengendara. Hingga sedikit tertantang oleh sebuah Legenda dengan wanita mungil di atasnya, yang di depanku, berjalan sambil salip sana salip sini dengan cepatnya. Aku berusaha mengejarnya. Hingga aku berpikir.. Hmm.. Kadang se CEPAT ini, tidak menjadi pilihan TEPAT. Aku melambat. Hingga wanita dan Legendanya itu, hilang dari pandanganku. Namun, “Aaaah, masak ga bisa siiiih, bergerak CEPAT, namun hasilnya TEPAT.” (Maklum, aku dah sangat mengantuk juga) Adrenalin memacuku. Hingga, wanita mungil dan Legendanya sudah terlihat. Dia masih salip sana salip sini. Hingga di depan kami ada beberapa kendaraan yang menghalangi. Hingga kesempatan untuk melaju lebih dulu aku dapatkan, dan Princess Jupi, membawaku menjauh dari wanita mungil dan Legendanya. Sekaligus, lebih cepat sampai di rumah. Demi menitipkan penat yang kurasa.
Ternyata, hal TEPAT itupun, bisa didapat dengan memutuskan secara CEPAT.
Jadi, menikah CEPAT atau menunggu yang TEPAT yaa..?? (hehe)
Hingga usai tulisan ini, aku lupa nama dosen baruku itu. Makasih Ustadz Dosen yang kami hormati..
Related posts:







sukaaaaaaaaa… ^_^
Hmmm…Mantabana !!
Mas Nur Juli> Alhamdulillaah.. jazakallaahu khair dah mampir di sini mas..
Juli> Juuuuuuuuullll… dah nemu abi kan di FB.. beliau ganti akun ternyata.. Alhamdulillaah bisa silaturahim lagi..
Syukran ya Jul dah berkunjung dimari..