12 Ramadhan 1432 H
Belakangan, suka sekali nonton acara ‘Masterchef’ versi apapun. Kecuali Indonesia. :p Yaaah, sebenarnya, ini cuma masalah selera aja. Ini bukan bicara tentang aku suka masakan luar. Bukan. Ini mengenai selera yang muncul karena apa yang ditampilkan oleh setiap versi ‘Masterchef’ itu. Di antara semuanya, lebih suka Masterchef versi Australia.
Masterchef Australia, menampilkan sebuah dorongan positif yang sangat kuat kepada setiap peserta dari hampir semua kata-kata yang dilontarkan oleh para chef, tim penilai.
Sebuah acara lain yang menawarkan seru dan canggihnya teknik memasak para chef yang juga aku suka, adalah Hell’s Kitchen. Dimana suasana dapur yang dikelola oleh koki-koki keren itu, dipenuhi dengan teriakan, makian, celaan dan banyak kata kotor. Pula ada aktivitas sabotase yang semakin menambah tekanan yang dialami oleh chef-chef di dapur neraka koki Amerika itu.
Kompetisi dalam Masterchef Australia, memungkinkan munculnya kreativitas para chef. Meskipun, di dapur ini pula dirancang untuk memberikan tekanan kepada pesertanya dalam memasak. Namun, suasananya benar-benar berbeda. Meskipun pada beberapa episode, ada peserta yang melakukan strategi-strategi yang digunakan untuk menyulitkan chef lain. Tetap saja, dari dapur yang kondusif ini, melahirkan seorang juara.
Sedangkan Hells Kitchen, siapapun pesertanya. Laki-laki atau perempuan, tua atau muda, semua mesti siap kena damprat bahkan peluang suksesnya disabotase. Namun, toh dari dapur itu lahir pula seorang pemenang.
Pernah bertemu dengan orang yang, setiap dapat tempat kerja, beberapa bulan kemudian mengeluh. “Nggak enak mah di situ kerjanya. Mau pindah aja.” Setiap kali ia panda kerja. Tidak sampai satu semester, ia akan kembali melontarkan kesah yang rada bawel. Begini siiih… begitu siiih. Setiap tempat di mana ia berada, hanya berhadapan dengan penderitaan. Sedangkan penderitaan itu disebabkan oleh hatinya yang kerapkali belum mudah untuk dibujuk demi menerima keadaan.
Para chef di atas berkarya di tempat yang berbeda, berada di bawah tekanan yang tidak sama. Toh, ada saja orang sukses yang lahir dari ‘penderitaan’. Lalu kemudian, yang belum berhasil, masih tetap punya cita-cita untuk dikejar.
Pun kita minta hidup di awan bersama bulan dan bintang. Sesungguhnya akan pula merindukan kehijauan bumi.
Nikmati hidup.. Namun, jangan lakukan mengerjakan hal yang tidak kau sukai. Melakukan sesuatu dengan rasa benci. Hanya membawa rugi.
Berusaha.. menjadi chef kehidupan yang bahagia. Beri garam secukupnya, beri bumbu seperlunya. Lezatnya hidup dengan penuh ridha. Senyum selebar-lebarnya.. ^_____________^
Related posts:





