9 Ramadhan 1432 H
Kala kita telah hadir ke dunia kemudian hidup dengan seyakin-yakinnya atas sebuah identitas diri. Maka ia akan menjadi sesuatu yang berpendar pada kata-kata dan terwujud dalam perilaku kita.
Diri kita adalah seseorang yang akan sangat dikenal oleh orang-orang di dekat kita. Karena mereka melihat, mendengar dan beberapa di antaranya sangat memahami, siapa diri kita. Masing-masing individu yang mengenal kita, mereka pula menyikapi diri kita sesuai dengan apa yang mereka kenali dan pahami.
Setiap kita, sangat membutuhkan adanya pribadi-pribadi indah dan kuat yang benar-benar menunjukkan identitas diri mereka secara jelas. Mereka yakin dengan cita-citanya, mereka percaya dengan apa yang ada dalam dirinya dan mereka pula berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bisa membuat apa yang mereka miliki bisa juga dirasakan oleh orang lain.
Aku mengenal banyak pribadi hebat disekitarku. Berkumpul bersama mereka selayaknya menemukan sebuah oase kehidupan, tempat mereguk tetesan yang menyejukkan. Senantiasa menantikan kehadiran mereka, dan seringkali ketidaksertaan mereka menjadi sesuatu yang menumbuhkan kerinduan.
Kadang berpikir, sudah jadi pribadi seperti apakah kita dalam pandangan orang-orang yang mengenal kita. Aura seperti apa yang memancar dari kata dan perbuatan kita yang kemudian memahatkan kenangan seseorang atas diri kita. Penilaian manusia mungkin tak seberharga penilai Allaah Sang Khaliq. Namun, apa yang dari diri kita mampu menghadirkan kesenangan, ketenangan dan kesejukkan yang membawa pengaruh baik pada orang lain, maka itupun bernilai baik di hadapan Allaah Rabbul’aalamiin.
Kekuatan aura seseorang yang memancar, kemudian menyenangkan hati orang lain, adalah kekuatan yang tak hadir begitu saja dari topi pesulap, dengan mantra ajaib ‘abrakadabra’. Aura itu akan terasa begitu kita memandang seseorang. Mendengar kata-katanya ketika berjumpa atau mungkin ketika bersalaman serta berpelukan dengannya. Seperti perasaan teduh saat jumpa dengan pribadi-pribadi ber-aura indah dan powerfull itu.
Akan jadi biasa, jika aura itu bisa kita temukan pada seseorang yang kita jumpai. Namun, aku berkali-kali merasakan aura yang sama, pada orang-orang yang aku sebut hebat, sedangkan aku tidak pernah bertemu dengannya.
Pernahkah bertemu dengan mereka..? tentu pernah ya.. Pribadi sehangat dan seteduh Rasuulullaah Muhammad merupakan contoh yang tak terbantahkan. Jauh jarak.. Terpisah waktu.. Tak pernah kita jumpai.. Namun, auranya mampu menempuh segala jarak, menembus hijab sang waktu dan menjadi inspirasi bagi siapapun yang mendengar dan membaca sejarah pribadinya yang melegenda.
Ada lagi Almarhum Ust Rahmat Abdullah, sosok Helvy Tiana Rosa, beberapa nama lain. Serta siang tadi, membaca satu nama di beranda. Phoenix Wibowo. Baru kali itu membaca namanya, melihat wajahnya dan menatap ke kedalaman matanya dalam foto itu. Membaca satu paragraf yang menceritakan sepak terjangnya dalam dunia kepenulisan. Tanpa sadar, merasakan perih atas kepergiannya. Lalu menangis.. Hiks.. Hiks.. Aura kehidupan seorang Phoenix Wibowo menyentuhku.
Meneliti aura kita. Adakah secemerlang pelangi..? Yang kehadirannya disambut dengan takjub dan menyenangkan bagi yang memandangnya di ketinggian. Seterang bintang yang sanggup hiasi gulita malam atau malah kebalikannya segelap mendung yang mendatangkan kekhawatiran..?
Oh Aura.. Aura diri..
Related posts:





