Kepada Yang Terkasih,
Rasulullaah Muhammad Shallallaahu’alayhi wasallam
Di Sebuah tempat terbaik dan terindah di sisi Allaah
Bismillaahirrahmaanirrahim.. Ba’da tahmid wa shalawat.
Assalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh
Salam kenal yaa Rasul.. Dari aku, yang jauh terpisah jarak dan waktu darimu.
Ini aku yaa Rasul.. Seorang wanita akhir zaman, yang mencoba mengenalimu dengan sederhana melalui potongan-potongan cerita. Dari buku para ‘ulama, dari lisan guru tercinta, dari obrolan kecil sebelum tidur dengan bapak mamakku atau dari majelis-majelis ilmu, di mana kami memuji Allaah dan mengagumi pesona jiwamu. Bersih, bening, dan jernih. Si Fulana ini yaa Rasul, yang masih tertatih membersamai dua hal yang kau wariskan. Masih pelan-pelan mengeja maknanya dengan sempurna. Masih berusaha, menggapai-gapai setiap derajat kebaikan wanita yang sering kau sampaikan dalam lafadz-lafadz sunnah-mu. Pelan-pelan yaa Rasul. Semoga tak terlalu pelan, sehingga sanggup mencapainya, ketika satu demi satu waktuku digerogoti usia yang melaju.
Ingin menceritakan kehidupanku yaa Rasul, yang tentu sangat tak penting bagimu, di antara banyaknya urusan umat yang dulu menyibukkanmu. Aaah, namun tetap aku impikan, bisa sejenak menatap wajah teduhmu bila aku menceritakannya dalam sebuah pertemuan paling berkesan. Kapan ya, Rasul..? Hiks..
Salam semangat yaa Rasul.. Dari aku, yang seringkali jatuh dalam asa yang hampir putus.
Wahai pembawa sinar islam yang membimbingku dari kegelapan
Ketika menjadi diriku adalah sesuatu yang tak sempurna. Hingga mungkin benar di mata manusia yang satu. Lalu salah di mata manusia lainnya. Maka mampirlah ejekan, cemooh dan pedasnya kritik yang kubiarkan melemahkanku. Sedihnya aku yaa Rasul, yang tak kuat menanggung kecilnya ujian ini. Kemudian, teringatlah aku padamu, Insan Mulia, utusan Sang Maha Cinta, yang selalu kuat menerima ejekan dan cemoohan orang-orang yang mengingkari kebenaranmu. Ingat, tentang perlakuan mereka yang meludahimu yaa Rasul. Kau sambut dengan langkah tetap tegar dalam syi’ar. Tak puas meludahi, mereka melemparimu dengan kotoran-kotoran dan batu. Hingga menodai tubuh sucimu dan mengalirkan darah dari kulitmu yang terluka. Tiada pedulimu dengan perihnya, dan lanjutlah engkau yaa Rasul menegakkan kalimat Allaah. Tersadarlah aku, ujianku tidaklah seberapa dibandingkan dengan gunung deritamu yang tak kau izinkan menjatuhkan semangatmu untuk terus menebar kebaikan dan karya tiada dua. Setiap kembali kukenang detik-detik itu, yang bagiku berair mata, namun untukmu adalah keindahan menerima setiap sakitnya dengan cinta. Engkau masih tersenyum di atas semuanya. Karenanya, aku sayang engkau yaa Rasul.
Salam sabar dan syukur yaa Rasul.. Dari aku, yang menjalani hidup dalam keterbatasan.
Wahai manusia yang teramat sederhana dalam kebersahajaan.
Sesekali, dalam hidupku ini, terasa selalu ada yang kurang. Satu waktu, kecewa dengan cita-cita yang tak tercapai. Di lain hari melihat sesuatu yang kuinginkan, tak bisa kudapatkan, telah berada di tangan orang lain. Kumiliki, satu lemari penuh pakaian yang setiap hari bingung memilihnya. Lalu mengeluh, “Huufft, semua sudah pernah dipakai. Pakai yang mana lagi ini.” Bila satu hari saja pernah tak kudapati makanan di meja makan kami, bukan karena tak ada yaa Rasul. Namun, malasnya aku mengusahakan keberadaannya. Maka keruhlah wajah sepanjang hari, seakan itu adalah hari paling mengecewakan sedunia. Yaa Rasul, aku ini apa ya..? Manusia siih.. Tapi, tak pandai bersabar, kurang pula bersyukur. Bila kemudian, terngiang lagi tentang bagaimana engkau menyikapi ‘kekurangan’. Benarkah yaa Rasul, hanya dua pakaian itu yang kau miliki..? Satu untuk shalat, yang satu engkau gunakan di saat yang lain. Benarkah..? Lalu, ketika kau punya satu lagi yang baru, maka kau berikan salah satu pakaianmu kepada mereka yang membutuhkan. Benarkah begitu..? Hu.. hu.. tak sanggup kutangkap dengan akal seorang Fulana biasa ini, bagaimana kesederhanaanmu itu menghiasi kemuliaanmu. Ku dengar kepingan kisah lain. Waktu engkau pulang ke rumah, dan mendapati tak ada makanan, lalu engkau berpuasa seketika itu juga. Sebegitu sederhananya jiwa luasmu menangkap kekurangan dengan pandangan hati yang tetap tenang. Terbukalah mataku yaa Rasul. Setiap masalah, akan menjadi besar, jika kita pandang dengan mata, kita ukur dengan perut dan kita nilai dengan nafsu. Membesarlah hatiku dengan keteladananmu yaa Rasul. Karenanya, aku makin sayang engkau yaa Rasul.
Salam perjuangan yaa Rasul.. Dari aku dalam perjuangan kecilku.
Wahai pemimpin para pejuang yang tak putus dalam juang, hingga dijemput kematian.
Tubuh ini, yaa Rasul, dalam langkah-langkah kecilnya menapaki jalan-jalan pejuang. Lelah ia bersama terkurasnya peluh. Lalu ia berhenti yaa Rasul. Merasa tak sanggup melanjutkan lagi perjalanan di jalan-jalan penuh kerikil dan duri tajam yang niscaya selalu ada. Bila sedikit terjatuh, ia kemudian menangis tersedu berurai air mata. Seketika pula, pupus semangatnya lalu berniat untuk berhenti. Aduuuh, punten yaa Rasul. Memang si Fulana ini malu-maluin ya. Mengaku pejuang, tapi mengalami sedikit sakit saja, sudah putus asa dan kehilangan semangat. Itulah mengapa, kembali aku di nasihati oleh sejarah juangmu yang sungguh menawan. Engkau pernah berada di puluhan arena perang. Entah sudah berapa banyak ayunan pedang musuh yang berhasil menyentuhmu. Namun, luka-luka itu bukannya membuatmu menangis. Melainkan semakin menambah semangatmu untuk melawan kebathilan. Bukan engkau yang menangisi lukamu. Para sahabatlah yang mengkhawatirkan keselamatanmu. Sedangkan engkau tetap mengayunkan pedangmu. Kembali membaur dalam debu-debu, menggentarkan musuhmu. Terpancang lagi, satu tekad di kedalaman hati. Setelah menapaktilasi betapa cintamu pada jalan ini. Semangat itu bukan pada raga, namun menggelora dalam jiwa. Lelah itu pada diri, ia akan terhapus oleh kerinduan syahid di jalan ini. Karenanya, aku lebih lagi menyayangi engkau yaa Rasul.
Salam cinta yaa Rasul.. Dari aku yang terus mengagumi akhlaq-mu. Namun, masih tergagap untuk menirunya dengan sempurna.
Wahai pemilik pesona iman nan mempesona, yang penuh kasih sayang pada umatnya.
Di zamanku ini yaa Rasul. Betapa sudah berjuta-juta manusia berada di barisanmu. Seperti aku. Setidaknya, kami telah mengucapkan syahadat, sebagai gerbang utamanya. Iiissh, maaf lagi ya Rasul. Si Fulana ini, mengaku-ngaku telah berada dibarisanmu. Sedangkan, masih jauh dari mengikuti setiap gerak langkah dan ucapanmu. Aku tahu, engkau sungguh memelihara rasa malu. Tapi, demi kecintaan pada dunia, kadang rasa malu itu hilang entah kemana. Bertanya, “Sudahkah aku, berbaris di belakangmu..?” Betapa engkau penuh kasih dan sayang pada anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Hingga kau sanggup beri setiap keping uang dan setiap kerat roti, yang seharusnya untuk keluargamu yang juga membutuhkannya, demi mengukir senyum di wajah-wajah mereka. Masih jelas dalam memoriku, tentang sayangmu pada seorang buta, yang setiap hari kau suapi, meskipun ia memarahimu tanpa tahu siapa engkau sebenarnya. Terkenang -kenang yaa Rasul, indahnya karakter yang menghiasi pribadimu. Lalu aku..? Bersedekah dengan banyak berpikir. Memberi dengan memelihara pamrih. Bahkan, kadang tak tahu, bagaimana keadaan tetanggaku. Namun, setiap lembaran cerita tentangmu, meringankan tanganku yaa Rasul. Selalu begitu. Mesti memandang kembali lukisan kehidupanmu, untuk bisa mengembalikan kasih, supaya tetap melingkupi hati dan pribadi. Karenanya, aku sayaaaaaaang engkau yaa Rasul.
Salam rindu yaa Rasul.. Dari aku.. si Fulana yang biasa.
Wahai Rasulullaah Muhammad, yang senantiasa dicintai umat dan kepadamu aku bershalawat.
Sungguh tak pantas berandai-andai. Namun, aku ingin, bisa seperti sahabat Abu Bakar, yang menyertai hijrahmu. Hingga bisa kudengar kalimatmu yang menenangkan, “Allaahu ma’ana.” Aku ingin bisa bercanda denganmu. Lalu kudengar humor indahmu tentang biji-biji kurma itu. Ingin membersamai shalat jama’ahmu yang digambarkan penuh syahdu dan khusyu’. Jika aku lelaki, ingin juga menyalamimu dan memelukmu dengan hangat, sehingga bisa kubisikkan satu permintaan do’a untuk keistiqamahanku, kemenangan para pejuang islam, keselamatan umat, kesuksesan keluarga dan lain-lain. Ternyata, bukan hanya satu do’a yang ingin kubisikkan. Betapa karena, aku sayang pada engkau yaa Rasul.
Wahai yang pribadinya bercahaya, hidupnya kaya makna.
Masih banyak yang ingin kuceritakan. Bila saja masih sanggup kutahan tangisku, kala mengingat cintamu di penutupan usiamu, “Ummati.. Ummati.. Ummati.” Adakah aku di dalamnya yaa Rasul, yang engkau sebut dalam kesakitanmu itu..? Pantaskah..? Si Fulana ini, yang masih terus membenahi diri.
Bila saja surat cinta ini, sampai padamu. Tentu, akan wajahku bersemu malu. Kebanyakan isinya, hanyalah keluhanku. Sungguh surat cinta yang tidak romantis. Berharap, semoga tak bosan engkau membacanya, yaa Rasul. Yaa Nabiy salam’alayka. Yaa Rasul salam’alayka.
Yaa Rasul, semoga Allaah mempertemukan kita, di taman surga. Amiin yaa Rabbal’aalamiin
Wassalaamu’alaykum warahmatullaah wabarakaatuh
Salam rindu dan cinta
Si Fulana.
Shallu’alannaby..
[Tulisan saya dalam buku antologi dengan cover di atas. Buku yang karena satu dan lain hal, tidak pernah sampai ke tangan saya. Semoga cinta dan sayang pada Rasuulullaah. Bukan sekedar kata semata]
Related posts:







Salam sahabat; Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi dikau, wahai Sahabatku. Setiap kali berkunjung di sini, hati ini terasa damai dan sekaligus terhenyak dalam nuansa keindahan yang Islami. Kujelajahi, satu, dua atau bahkan pernah tiga postingan..!
“Curhat Si Fulana” sebuah dimensi rindu yang menyeruak dari kalbu Fulana yang tersedu sebab sadar bahwa diri hanyalah hamba yang lemah tak berdaya. Tanpa daya karena hiruk pikuknya hawa nafsu yang senantiasa menghambat kelajuan khusyuk dan tawaddhu untuk mengabdi ke haribaan al-Khaliq.
Merinding seluruh bulu kudukku tatkala meresapi nilai-nilai imanen yang tersurat dan tersirat dalam setiap huruf “Curhat Si Fulana”… Daku si-Fulan, larut dalam buaian asmara dalam lingkaran gemintang nun jauh di cakrawala yang tak berbatas. “Ke mana daku si-Fulan, kelak akan hidup kembali? Di akhirat.. Subhanallah… tak kuat daku menanggung beban kebobrokanku selama hidup di dunia fana ini!
Semoga Allah SWT mengijinkan Rasulullah SAW untuk menganugrahkan syafa’at bagi daku nan penuh dosa. Juga bagi dikau, wahai Sahabatku… serta bagi seluruh kaum Muslimin/muslimat. Amin.
Semoga hal yang sama juga berlaku kepadamu sahabat. Aamiin yaa Rabbal’aalamiin..
Terimakasih sudah mampir dan membaca di sini. Semoga mampu memberikan manfaat bagi sahabat.
Aamiin yaa Rabbal’aalamiin.. Syukron yaa sudah mendoakan saya. Blog Anda Insyaallah banyak memberikan manfaat bagi saya… salam sahabat