Allaahummanshur ikhwaana Mujaahidiina wal muslimiina fii filistiin, wal mustadh’afiina fii Ghazza ‘alal yahudil ghosibin, wa fii iraaq, wa fii afghaanistan, Allaahummanshur ikhwaananal mujaahiduuna fii sabiilika fi kulli makkaan wa fii kulli zamaan… Aamiin yaa Rabbal ‘alamiin.
Suara ustadz Faqih yang sedari tadi mengucap do’a, akhirnya henti. Terdengar isak dari kanan, kiri, depan dan belakang Putra. Pemuda itupun masih terus menutup wajahnya. Demi menyusut air mata yang sedari tadi tak tertahankan. Tubuhnya sedari tadi bergetar hebat. Selalu begitu, setiap ia mengingat kembali satu per satu untaian kisah nan haru biru, dari tanah yang diberkahi. Nun jauh di sana.
Putra menurunkan tangannya, ketika sebuah tangan menepuk bahunya lembut. Dia menengok ke kanan, dan menemukan wajah teduh Faisal, kakak tingkatnya, sekaligus yang membinanya dalam sebuah kelompok kajian. Faisal tersenyum padanya. ”Seperti yang selalu kukatakan,..”, ucap Faisal. Putra pun mengangguk dan mulai tersenyum, dengan mata yang telah bengkak. Ya, Putra tau apa kelanjutan dari ucapan Faisal tadi. ”Aku telah di do’akan. Hanya tinggal menunggu waktu.” Putra menarik nafas dalam. Ia pun berdiri bersamaan dengan jama’ah yang lain, karena sang pembawa acara sudah menutup agenda munasharah dan shalat ghaib kali ini dengan hamdalah. Putra berjalan di sisi Faisal, mereka menyalami setiap jama’ah laki-laki, yang mereka lewati. Setibanya di luar, mereka berpisah, dengan sebuah jabatan erat dan pelukan hangat. Masing-masing menaiki metromini yang berbeda. Karena tempat kos mereka yang memang tidak searah.
Putra duduk di kursi paling belakang. Angin berhembus dari jendela metromini. Hingga getaran handphone-nya membuatnya kaget. Sebuah nomor tak dikenalnya. “Assalaamu’alaykum.”
“Wa’alaykum salam warahmatullaah wabarakaatuh.”
Dialog selanjutnya, adalah dialog yang mengantarkannya sampai di Palestina.
Putra adalah seorang pemred tabloid bulanan di kampusnya. Ia mengikuti sebuah kontes menulis tentang Palestina, dan menjadi pemenangnya. Lomba itu diadakan oleh sebuah lembaga yang mengirimkan sukarelawan ke Palestina. Putra berhak menjadi sukarelawan yang bertugas menuliskan semua hal dan aktivitas para sukarelawan di Palestina.
Kemarin, ketika ia sedang membantu dr Zidan menghibur Aisya, seorang anak perempuan, berusia 6 tahun yang terus saja menangis sejak ibunya meninggal. Tiba-tiba, sebuah ledakan terdengar sangat keras. Sebuah rudal, entah berasal dari arah mana, jatuh tepat di samping tenda pengungsian. Putra tersentak.. tanah tempatnya berpijak bergoyang kuat, hingga membuatnya terhuyung. Tenda berbahan parasut tebal itu terangkat ke udara. Beberapa tempat tidur terbang ke arah mereka. Reflek, Putra merengkuh Aisya yang masih menangis ke dalam pelukannya. Hingga dirasakannya, sebuah benda berat menabrak punggungnya dengan keras.
Putra pingsan beberapa saat..
(Ntar disambung..)
*Untuk semua mujahid.. yang terus merindukan syahid..
Mungkin terlambat.. But I still love u Gaza..
Related posts:







