17 Ramadhan 1432 H
Di sebuah rak. Di pajang berbagai macam benda-benda pecah belah. Bentuknya berbeda-beda. Demikian juga warna dan ukurannya. Bahannya pun juga berbeda. Ada gelas-gelas kristal. Guci-guci Cina yang banyak reliefnya. Semuanya ada di sana. Rak itu, berada di dalam sebuah toko mungil.
Esok akhir bulan. Malam itu, semua benda di atas rak sedang membicarakan waktu pembersihan. Pemilik toko memang biasa membersihkan semua benda di dalam tokonya pada akhir bulan. Sehingga di awal bulan, semua terlihat bersih oleh pembeli.
“Eh, Las.. besok kan hari pembersihan ya.”, Kata Mangkuk pada si Gelas kristal.
“Ho’oh. Aku nggak sabar nunggu besok. Soalnya bagian kakiku banyak debunya nih.”, Gelas menimpali. “Itu, bagian pinggirmu juga kotor Mangkuk.”, ujar Gelas.
“Iya, rasanya nggak enak. Lagipula, kalau kita kotor, siapa yang mau beli.”, kata Mangkuk sambil meliukkan badannya.
“Aku juga nih.”, Cangkir ikut nimbrung. “Lihat saja gagangku ini. Sudah mulai kusam.”
“Kalau aku nggak usah lah. Debunya Cuma dikit ini.”, kata si Guci yang bertubuh tinggi dan besar.
Mangkuk, Gelas dan Cangkir saling berpandangan. “Mmm.. biar sedikit, tetap harus dibersihkan Guci. Supaya kamu tampak semakin mengkilap.”, bujuk Mangkuk.
“Aaaaah.. aku ni barang paling mahal di sini. Pembeli tetap akan senang melihatku.”, Guci memisahkan diri dari benda-benda lain. Dia memilih berbaris paling jauh dari tepi rak. Supaya pemilik toko kesulitan menjangkaunya dan tidak jadi membersihkannya.
Fajar datang. Saat itu semua benda sudah diam. Kemudian turunlah hujan. Ternyata, ada atap toko yang bocor. Tepat di atas si Guci. Maka Guci pun terkena tetesan air dari atap yang bocor.
Pemilik toko datang, siap dengan alat-alat pembersihnya. Ia langsung memulai membersihkan benda-benda di rak paling bawah. Usai itu, ia lanjut ke rak di atasnya. Demikian terus. Hingga sampai pada rak paling atas. Rak itu cukup tinggi. Pemilik toko mengambil sebuah tangga. Ia membersihkan jualannya di atas tangga. Setelah barang-barang yang kecil telah dibersihkan. Tinggallah si Guci. Karena letaknya yang agak jauh, pemilik toko mesti berusaha menjulurkan tangannya sambil memajukan tubuhnya. Guci besar yang mahal itu sudah berada di tangannya. Namun, tubuh Guci yang berdebu dan basah membuatnya licin. Maka pemilik toko mesti mencengkeramnya dengan kuat agar tidak tergelincir dan jatuh. Tiba-tiba, pemilik toko kehilangan keseimbangannya. Cengkeramannya pada tubuh si Guci melemah dan Guci meluncur ke bawah, “PRAAAANG..!!”
(Penulis menghentikan ceritanya.. Biar kapok itu guci)
~*~ Saat kacamata hati kita buram tuk melihat. Bahkan tak kuasa mendapati noda dalam diri. Kemudian ia tak pandai membujuk jiwa tuk berlapang dengan masukan dan kritikan. Sedangkan itulah yang kan membantu tuk berbenah. Maka tiba masanya semakin terpuruk. Karena kemuliaan enggan mendekat ~*~
Maaf lahir batin yaaa..
Related posts:






