Coba ngacung.. siapa yang sudah bisa naik motor..?
Ngacung lagi. Siapa yang sudah bisa naik mobil..?
Oke.. setidaknya saya tau ada di antara kita yang bisa mengendarai kendaraan dari jenis apapun. Kecuali dari jenis kuda-kudaan. ^____^
Awalnya berlatih naik motor, saya masih SD kelas 6 atau sudah SMP kelas 1. Saat itu namanya juga latihan. Bapak sesekali bawa saya ke tempat-tempat lapang. Kalau berkendara di sana, kita tidak perlu memikirkan, kapan belok, kapan lurus, kapan harus ngerem. Selama, motor masih jalan, ya jalan sajalah. Tempat lapang seperti ini, memang khusus untuk para pemula. Cocok untuk mereka yang baru mencoba bersahabat dengan kendaraannya.
Selanjutnya, bapak ajak saya melalui jalan-jalan sepi atau memilih waktu pagi dimana jalan raya masih dalam kondisi sepi, karena tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat. Biasanya bapak duduk di jok belakang dan sesekali mengomando saya untuk melakukan hal-hal tertentu yang secara tidak sadar, saya lupakan. Seorang yang baru belajar mengendarai motor atau mobilnya. Kebanyakan akan panic saat ada kendaraan lain yang melintas, baik dari bagian depan atau bagian belakangnya. Begitu juga saya.
Setelah lumayan lancar, saya sudah dibolehkan bapak untuk menaiki motor itu keliling-keliling gang di dekat rumah saja. Pertimbangan bapak, mungkin sekitar tempat tinggal saya saat itu memang tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas. Sehingga cukup aman untuk saya mengendarai motor.
Lama- kelamaan, saya semakin lancar naik motor. Cepat, lambat, ngebut. Lumayan meng-korting waktu kalau lagi di jalan.
Setelah lancar itu, saya semakin terlatih menghindari kendaraan yang melintas, lubang di tengah jalan, menyalip kendaraan lain saat saya sedang buru-buru. Saya tidak lagi panik meski seramai apapun kendaraan yang ada di belakang dan di depan saya. Semua nampak biasa-biasa saja. Seperti sesuatu yang sudah terlalu lama saya jalani, dan tiba-tiba semua menjadi mudah saja.
~*~*~*~*~*~*~
Mmm..
Orang-orang baru.. dalam hal apapun, tentu akan sedikit saja ‘tantangannya’. Dari yang sedikit-sedikit itu, kemudian ia belajar menyelesaikan semuanya, satu demi satu. Ia tidak meninggalkan tantangan itu kemudian berpaling dan lari darinya. Namun, dia melawan ketakutan, menghapus ketidakyakinan, dan optimis bahwa yang sedang ia hadapi adalah bekal untuk melaju di kemudian hari.
Lihatlah jalan raya yang adem ayem, kalau Jakarta saat hari libur, ada jalan-jalan tertentu yang ditutup, dan kendaraan dilarang untuk melintasinya. Mungkin, jalan-jalan ini hanya dilalui oleh para pejalan kaki, orang-orang yang ngobrol santai, atau mereka yang sekedar jalan-jalan dan jogging. Jalan ‘sepi’ hanya digunakan oleh mereka yang melakukan kesenangan atau enggan menghadapi ‘masalah’.
Lalu perhatikan ketika hari kerja datang. Jalan itu ramai. Siapa yang menggunakan jalan-jalan itu saat ramai..? Merekalah para pejuang. Mereka berjuang demi hidup, demi keluarga, demi harapan dan demi masa depan. Orang-orang terlatih, yang mengendarai kendaraannya dengan lihai dan sabar. Mereka terlatih menghadapi macet. Mereka ditempa untuk menyalip rintangan. Mereka siap meng-erem di saat yang tepat, dan melaju di saat yang tepat pula. Mereka terlatih dengan tantangan yang awalnya, sedikit demi sedikit dilalui.
Jalan hidup tanpa rintangan adalah jalan sepi tanpa kendaraan. Lalu buat apa dibuat jalanan..?? Narik mobil-mobilan..?? ^___^
Keep Fighting.. Menuju Senin..
Related posts:







