Subhaanallaah
Walhamdulillaah
Wa Laa Ilaaha Illallaah
Allaahu Akbar
Ada banyak lagi kalimat-kalimat thayyibah (kalimat yang baik), yang biasa kita ucapkan (jika seorang muslim) dan mungkin kita ajarkan kepada putra-putri kita. Semuanya keluar dari lisan kita karena betapa kita telah menyaksikan, bagaimana Allaah menciptakan dunia dan seisinya dengan peristiwa-peristiwa luar biasa.
Mengucapkan kalimat thayyibah bukanlah sebuah hal sepele. Karena ketika kita melafadzkannya adalah bentuk ingatan kita kepada Sang Pemilik Keagungan Yang Tiada lagi Yang Lebih Agung Dari-Nya. Setiap kalimat sangat spesifik digunakan dalam kondisi-kondisi tertentu.
Teman kecilku, Tika, bila listrik mati di sekolah kami. Maka ia akan serta merta mengucapkan kalimat “Innaalillaahi”. Bila listrik kembali menyala, semua teman selalu ingat untuk mengucapkan “Alhamdulillaah.” Membiasakan mereka mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu, adalah sebuah kesinambungan yang tidak berhenti. Awalnya, dicontohkan, diberitahu tujuannya, dipahamkan urgensinya. Kemudian, ada berulang.. ulang.. ulang.. ulang.. ulang.. ulang kali diingatkan kembali. Seorang guru atau orang tua yang membiasakan buah hatinya dengan kalimat-kalimat itu, adalah dengan maksud yang sangat serius. Harapannya adalah, si kecil akan terbiasa dan terbentuklah karakter manusia-manusia yang ‘latah’ dalam tiap kejadian dengan mengucap hal-hal baik. Mengingat Pencipta-nya.
Pernahkah melihat, medengar dalam acara-acara tertentu di televise, ada artis-artis yang memainkan perannya dengan mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah..? Tentu pernah ya. Kalau yang punya televise, meski tidak suka menonton, mungkin sesekali akan melihatnya.
Sebenarnya, kalau masih dalam rangka serius, dikatakan pada saat yang tepat, dalam kondisi sebenar-benarnya, tidak akan menjadi bahan tulisanku. Maklum.. Biasanya, aku menonton tanpa terlalu bayak memperhatikan secara detil. Namun, kemarin, pas nonton sebuah acara yang para artisnya sedang tampil di sebuah panggung besar. Masing-masing dengan perannya. Sering kan, dalam lawak ada artis yang membawakan peran ustadz atau sang raja dangdut itu lho. Nah, kemarin malam satu di antara artisnya menjadi si raja dangdut. Saat dia mengucapkan salam, penonton yang jumlahnya ratusan, mungkin juga ribuan menjawab dengan serius, sambil senyum2. Okelah itu. Liat wajah sule, memang ga tahan deh. Bawaannya senyum-senyum kagak nahan gitu. Tapi, giliran artisnya menyebut ‘Subhaanallaah’. Penonton yang buanyak itu tertawa terbahak.
Hmm.. entahlah. Mungkin, sebelum-sebelumnya, aku ada ikut tertawa. Namun, kemarin itu.. rasa JENGAH. Apa yang terjadi dengan makna kalimat thayyibah itu..?????
Coba lafadzkan.. “Subhaanallaah.”
Renungkan.. “Maha Suci Allaah.”
Adakah hatimu sedang tertawa..?!?
Related posts:






