Yaa Allaah… Aku masih gadis… Perempuan berkulit sawo matang itu berkata dalam hati. Ia baru saja lepas dari kekalutan yang dirasakannya berbulan-bulan. Dalam rumah bernama cinta, tanpa cinta. Pada ikatan yang mengatasnamakan kasih sayang, tanpa kasih sayang. Pedih yang dirasanya, dihapus Allah dengan kenyataan yang indah. Hatinya dipenuhi syukur yang tak henti. Kesabaran tanpa tepi ada di telaga hatinya yang murni. Lewat udara, dibisikkannya terimaksih pada sosok yang telah melepaskannya. Senyumnya mengembang…
11 Bulan lalu…
Kasih menebar pandangannya. Ia duduk di tepi tempat tidurnya. Kamar mungilnya berubah drastis. Lemari gantungnya entah dipindah bapak kemana. Meja kerjanya yang lapuk pun telah berganti dengan sebuah meja rias yang memunculkan bayangan gadis manis itu, pada kaca besarnya. Sebuah kipas besar di pojok ruangan, sedikit menyejukkan ruang 3×4 yang biasanya terasa hangat. Walaupun, sebenarnya Kasih kurang suka dengan hembusan anginnya yang terlalu keras menerpa kulit sawo matangnya. Tapi, bapak yang meletakkannya di situ. “Besok kamu perlu itu nak.”, katanya. Kasih hanya bisa pasrah, kali ini dia sama sekali tak ingin berkata apapun yang berbeda dari pendapat dan keputusan bapak. Lajang 24 tahun itu kembali menelusuri sudut-sudut kamarnya. Hari ini semua sudah menjadi biru. Warna yang paling diinginkannya sejak dulu. Bila tiba masa yang ditunggu itu. Bagaimanapun bentuk hiasnya, warna inilah yang diharapkannya.
Seketika, dirasanya sebuah getar yang tak biasa. Teringat pada sesuatu. Kasih menghampiri lemari biru yang dibeli bapak. Bapak… selalu punya cara untuk menyenangkan anak-anaknya. Meski tiada kata yang terungkap dari lisannya yang kaku. Tangannya mengambil sebuah tas berisi laptop. Satu-satunya barang paling berharga baginya, selain pena. Dibelinya dengan uang tabungannya yang tak banyak. Kasih duduk disandaran kasur busa yang juga telah diberi seprai dan ‘bedcover’ berwarna biru langit mengkilap. Membuka laptop di atas pangkuannya. Satu folder yang dicarinya ‘Hati Yang Rindu’. Kursor dihentikannya pada tulisan itu. Dan jari telunjuknya menekan mouse-nya lembut. Hanya ada dua file di dalamnya. Dipilihnya salah satu. Hingga muncullah tulisan itu. Sebuah ungkap rasa, yang baru dituliskannya satu bulan lalu.
Abangku sayang…
Masih jauhkah… kesempatan kita untuk bertemu…
sedangkan… telah siap sebuah taj mahal… kubangunkan di hatiku nan rapuh…
namun istanamu… kukuh di sana…
resahku… ku hapus dengan memimpikan umat yang kian berjaya…
gundahku… ku hilangkan… dengan sejumput asa…
bahwa umat ini akan menikmati indahnya.
Ketika tiba masanya… Allaah tunjukkan kebenaran pada mereka…
Namun… tetapku impikan…
keluarga bahagia… bersamamu…
sosok yang masih ada dalam do’a…
nama… yang sampai saat ini masih saja rahasia…
Rahasia langit… yang belum terungkapkan…
Allaah…
Penggenggam kehidupanku…
Peletak takdirku… Izinkan dalam kekuranganku…
Perkenankan dalam kelemahanku…
ku harapkan seorang pangeran yang terbaik bagiku…
Yang pula… meneguhMU dalam jiwanya… menyatukanMU dalam hatinya…
MenjadikanMU yang utama pada citanya…
Satukan kami… dalam kecintaan kami kepadaMU…
pertemukan kami… dalam kumpulan terbaik di sisiMU…
Ikatkan kami… Pada perjuangan bagi dienMU…
Dan jadikan kami… manusia-manusia beruntung…
Yang mendapat ridhoMU…
berhak menempati surgaMU…
dan… memperoleh keindahan tiada banding…
yaitu menatap wajahMU… Amiin Yaa Rabb
Setetes bening, mengalir jatuh dari sudut matanya. Allaah menjawab sebagian isi do’aku. Aliran itu, jatuh begitu saja. Kasih tak sanggup menahan bahagianya. Menderas, melelehkan rasa kesendiriannya. Karena besok, 2 Mei 2010, Syaif Dewangga Aji akan mengucap ijab untuknya. Hmm… cukup… Kasih menghapus genang di pipinya. Menutup file dan folder. Kemudian mematikan laptopnya. Di letakkannya di samping bantal. Kemudian ia berbaring, memeluk guling birunya yang baru. Teringat kembali sang bapak. Bapak… terima kasih…
Aroma kebahagiaan yang semakin memuncak. Kasih menarik nafas dalam-dalam. Getar halus itu sedikit memalukan baginya. Tapi, ia muncul tanpa dapat ditahan. Dan ia pun menegur jiwanya yang hampir tak sabar menanti esok. Sabar ya, Kasih. Perlahan tapi pasti, angin sejuk yang tak terlalu disukai dari kipas angin mulai membelainya. Membujuknya menyelami kedalaman bawah sadarnya. Kasih tertidur…
**** @ ****
Kasih berdiri di depan cermin besar itu. Gaun pengantin hijaunya, menampakkan aura kecantikan yang selama ini terpendam dalam keindahan menundukkan pandangan. Tampak kerlip keemasan menambah pesona Kasih hari ini. Disampingnya, ada bapak… yang sedari tadi memandang dengan penuh kebanggaan dan sayang.
“Kamu cantik nak.”, kata sang bapak.
Kasih mencabut pandangannya dari cermin. “Lho, bapak baru tau ya ? Hehehe…”
“Bapak dah tau dari dulu sih nak. Tapi, bapak males ngomongnya.”, balas bapak atas canda Kasih.
Keduanya tertawa di kamar biru itu. Bahagia… meski ada setitik kehilangan.
Kehilangan yang sama, hadir saat ijab kabul diucapkan oleh Syaif. Di kamarnya, Kasih bergetar bahagia. Hingga tetes-tetes bening mengaliri pipinya. Disambung dengan duka yang masih segar diingatannya. Ibu telah tiada. “Kasih dah menikah ibu. Semoga Allaah sampaikan bahagiaku sebagai cahaya bagi tidur panjangmu. Amiin.” Aliran itu susut, ketika Syaif, suaminya, masuk bersama bapak. Kasih tertunduk malu, ketika mata Syaif, beradu dengan tatapannya. Bapak menyerahkan sebuah pulpen, dan menyuruhnya untuk membubuhkan tanda tangan pada sebuah kertas. Kemudian, Syaif mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya. Sebuah kotak perak. Saat dibuka, tampaklah mahar Kasih. Yang disebut Syaif diijab kabulnya tadi. Sebuah cincin sederhana. Sangat sederhana.
Mahar itu, telah melingkar di jari manis Kasih. Kemudian, sebagai tanda penyerahan ketaatannya pada Syaif. Kasih spontan mengambil tangan Syaif, yang baru saja menyelipkan cincin itu. Diciumnya dengan penuh hormat. Dalam hati, Kasih berkata… “Aku akan menjadi istri yang taat untukmu, suamiku.” Lama… Syahdu… Setelah itu, Kasih berpaling pada bapak. Digenggamnya telapak tangan bapak. Dibawanya airmata, untuk tumpah di atas tangan yang telah mengerut itu. Penuh takzim…
**** @ ****
Usai sudah pesta pernikahan Kasih. Seharian, ia hanya bisa tersenyum. Senyum tak terpaksa. Karena hari itu, ia memang hanya punya senyum untuk dunia. Semua memang lelah. Namun, canda masih terdengar di dapur, di ruang tengah dan di halaman rumah. Di kamar biru. Setelah usai menyalin pakaiannya. Syaif berkata, “Aku lelah, tidur duluan ya dek.” Datar, namun sanggup menciptakan satu hening.
“Ya mas.” Kasih memang merasakan lelah pula. Namun… Aah… sudahlah hari ini memang melelahkan. Meski ada setitik kecewa di hatinya. Seharusnya… ada sebuah dialog malam itu… dialog persatuan jiwa. Bicara dari hati ke hati. Kasih menarik nafas panjang dan melepaskannya. Ia rela…
**** @ ****
Sepekan… Syaif menjaga jarak. Kasih bersangka baik. Dia mungkin masih malu… sangat malu. Dua pekan… tidur itu… masih dengan posisi yang sama. Syaif membelakanginya. Meletakkan sebuah guling di antara mereka. Apa ini..? Apa maksudnya…? Sebulan sudah. Malam itu, Kasih menyembunyikan guling pemisah tidur mereka. Saat akan tidur, Syaif panik… tak menemukan gulingnya. “Mana gulingnya dek..?” Syaif memandang Kasih yang sedang menyisir rambutnya.
“Adek simpan.”, jawab Kasih tenang.
“Dimana..?”, nada Syaif meninggi.
Kasih diam.
“Dimana dek..?” Makin tinggi.
Kasih berbalik, menatap suaminya. “Kenapa mas..? Untuk apa..?”, tanya Kasih. Sambil menahan tangisnya. Getar nada suaranya.
Syaif keluar dari kamar, ia menuju ke kamar sebelah, kamar Dinar, adik Kasih. Dan kembali membawa sebuah guling. Meletakkannya di tengah tempat tidur. Kemudian mengambil posisi yang sama. Seperti malam-malam sebelumnya. Dan… diam… tidur. Kasih menatap punggung suaminya penuh tanda tanya. Ada apa denganmu mas.
Bulan ketiga… Ruang tidur adalah tempat paling hening. Penuh dengan kejujuran disana. Kejujuran rasa yang dalam. Kasih… terus menerima penolakan. Kekakuan hadir.. ketika keduanya didalam penjara 4×5 itu. Penjara..? Hampir sama menurut Kasih. Hampa… Tapi, dia suamiku. Aku tetap sayang… cinta. Namun, kekakuan itu selalu berubah. Saat keluar melalui pintu ruang tidur mereka. Dipintu depan… kemesraan itu ada. Kasih mencium tangan Syaif. Syaif mencium kening Kasih. Tapi… hambar. Mesra yang juga hadir di ruang tamu. Tak pernah absen di meja makan. Mungkin karena ada bapak. Kasih pun… hampir muak dengan kebodohannya.
Suatu malam di bulan ke 7. Kasih bersiap dengan penampilan terbaiknya. Penampilan terbaik, yang semakin baik daripada bulan-bulan sebelumnya. Demi menarik perhatian suaminya tersayang. Dihampirinya Syaif, yang telah terbaring membelakanginya… lagi.
“Mas.”, panggilnya.
“Aku mau tidur.”, Syaif semakin mengkerutkan posisi tidur. Sebuah penolakan.. lagi. Biasa.. Kasih tak menyerah. Kali ini, ia harus berusaha lebih keras. Karena… pernikahannya… adalah taruhannya. Allaah… Bantu Kasih ya.
“Mas Syaif.”, Kasih melembutkan suaranya.. mendayu.. rindu.. disentuhnya bahu Syaif. Syaif meloncat bangun dari tempat tidur. Berlari menuju sudut ruang tidur mereka. Ia menatap Kasih dengan pandangan aneh.
“Kenapa mas..?” Kasih kaget dengan reaksi Syaif.
“Kamu mendekat.. aku akan pergi dari rumah ini.” Ancam Syaif.
DUG..!! Hantaman keras di dinding hati Kasih. Hancur… “Apa salahku mas..? Aku ini istrimu.”, Tangis Kasih tak terbendung, Namun, ia berkata dengan suara pelan. Kasih tak ingin bapak tau. “Jujur mas..? Ada apa sebenarnya..?”, masih dalam tangisnya.
Syaif diam.. diam… dan diam.
Kasih makin lebur dengan yakinnya. Tanpa diberi alasan, ia tak pernah diberi hak mendapatkan kasih sayang dari Syaif. Kebohongan demi kebohongan yang hadir dari diamnya Syaif.
Allaah…
inilah Kasih…
Seorang istri sederhana…
Yang mengharap cinta dari lelakinya tersayang…
Meminta keadilan dari ruang ke-Rahiman-Mu…
Mengharap keputusan terbaik dari kuasa Rahman-Mu…
Masihkah Kasih… harus terus memberi kasih…
Pada sesosok Syaif Dewangga Aji…
Yang telah menghargaiku dengan sakral ta’likut thalak…
Namun… tak menghendaki Kasih sebagai istri sejati…
Sungguh… Kau-lah muara cintaku…
Pada-Mu… rindu kulabuh lewat sujud-sujud digulita pekat…
Haruskah Kasih-Mu ini… merawat pernikahannya…
Keluh Kasih pada sebuah puisinya…
**** @ ****
Bulan kesebelas…
Setelah melalui kesabaran panjang. Kasih menerima keputusan hakim. Ia telah bercerai dengan suaminya. Seorang Syaif Dewangga Aji. Berat… Namun, harus. Ia yakin. Setelah berpuluh-puluh istikharahnya.
**** @ ****
Yaa Allaah… Aku masih gadis… Perempuan berkulit sawo matang itu berkata dalam hati. Ia baru saja lepas dari kekalutan yang dirasakannya berbulan-bulan. Dalam rumah bernama cinta, tanpa cinta. Pada ikatan yang mengatasnamakan kasih sayang, tanpa kasih sayang. Pedih yang dirasanya, dihapus Allah dengan kenyataan yang indah. Hatinya dipenuhi syukur yang tak henti. Kesabaran tanpa tepi ada di telaga hatinya yang murni. Lewat udara, dibisikkannya terimakasih pada sosok yang telah melepaskannya. Senyumnya mengembang…
Sahabatku: “Saya dah cerai mbak. Lebih baik mbak tau dariku. Daripada dengar dari orang lain.”, katanya sambil tersenyum.
Aku: Terlonjat kaget, “Kenapa ukh..?” Getar… suaraku getar. Ikut terluka.
Dia menceritakan perjalanan pernikahannya. Hatiku… tak cuma gerimis. Hujan… deras.
Sahabatku: “Sudahlah mbak. Airmataku… cukuplah. Sekarang aku tak perlu menangis lagi. Allaah sayang padaku. Dengan cara yang tak kita mengerti.”, dengan senyumnya… hampir getir. Namun, ia… tersenyum.
Aku: “Ada orang lain… jauh lebih baik… yang akan meminangmu. Allaah sayang… sangat sayang padamu.”, hiburku yakin… sangat yakin…
Sahabatku: “Makasih… akupun yakin. Kamu perlu tau satu hal lagi.”, sambil senyum. Tak ada getir di situ.
Aku: “Apa itu..?”, keningku mengerut.
Sahabatku: “Aku masih perawan.”
Kupeluk dia… penuh sayang. Kau hebat. Jika aku… mungkin tak kan kuat. Semoga tak terjadi, pada yang lain. Cukup kau. Allaah meletakkan satu hal didirimu…KUAT.
Mengagumi… sebuah KESABARAN…
Artikel yang lain:…
- Aku Suka Cara Allaah Men-Cinta
- Demi Cinta Pada Gaza
- Menulis dengan ‘SANGAT’ cinta
- Cinta Islam and Love Dandelion
- Atas Nama Cinta
- Merayakan Cinta
- Katakan kepada Cinta
Related posts:







betapa hebat nya org spt KASIH, slama setahun kesabaran dan ketabahanya di uji….
Ikhlas menerima semua takdir…..
sebuah gambaran realita kehidupan, siapapun dan apapun dia, semua dpt mengalami ujian hidup…..
Yup.. kesabaran Kasih itulah yang menjadi pelajaran buat saya..
Jazakallaahu khair dah mampir di blog saya..