Masing-masing kita ini, diciptakan memang dengan kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang semuanya berbeda-beda dalam setiap diri. Namun, jangan pernah berpikir bahwa Allaah membuatnya begitu karena sayangnya pada satu kaum. Tidak. Bicara tentang Yahudi. Mengapa Allaah ciptakan mereka dengan kelebihan-kelebihan yang mereka miliki..? Aku yakin, ada maksud yang mungkin ada Allaah sematkan dan jelaskan dalam ayat2-Nya (Kauliyah dan Kauniyah) yang mungkin dipahami oleh ‘ulama2. (Kalau aku sih tak paham sangat)
Betapapun, berbedanya kita satu dengan yang lain. Allaah melekatkan beberapa karakteristik insan dalam diri kita semuanya, tanpa terkecuali.
Sifat-sifat itu antara lain pelupa, bodoh, keluh kesah. (3 aja ya)
Nah, sifat-sifat tersebut ada dalam kadar dan bentuk yang berbeda, sesuai dengan kondisi masing-masing, baik kondisi yang Allaah sertakan sejak lahir atau kondisi yang terbentuk kemudian dalam kehidupan kita.
Misalnya sifat pelupa ;
Ada di antara kita yang selalu lupa, yang lain hanya lupa sesekali saja. Seseorang sering melupakan hal-hal kecil. Namun, ternyata ada juga yang malah melupakan hal-hal besar, semisal melupakan akan kedatangan hari akhir. Melupakan hal-hal besar, kemungkinannya akan sangat besar, ia mudah melupakan hal-hal kecil. Yaah begitulah. Beda yang dilupakan, kadar lupanya pun berbeda.
Lalu sifat bodoh ;
Ooo.. ternyata sifat itu memang ada dalam diri kita ya.
Lalu, bagaimana dengan ungkapan, “tidak ada orang bodoh, yang ada orang yang tidak mau belajar.” Hmm.. Jadi, sebenarnya kita bodoh tidak ya..?
Kalau memang dalam diri kita ada bibit kebodohan. Maka yang membedakan, memang kemauan untuk belajar dan menjadikan diri agar bisa pintar. Semua orang boleh bodoh. Tapi ada di antara orang-orang bodoh ini yang dengan kesungguhan menjauhkan dirinya dari kebodohan dengan banyak belajar. Ia membaca, ia bertanya, ia mengeksplorasi, ia mengamati, hingga berhasil mengurai simpul-simpul ilmu yang Allaah tebarkan di muka bumi. Pun ada yang bodoh, kemudian menikmati kebodohannya. Belajar enggan, diajari gengsi. See.. sama bodohnya. Tapi sikap membuat kebodohannya terlihat berbeda. Hahaa.
Yang menarik adalah sifat keluh kesah. Setelah sehari sebelumnya, membaca artikel tentang ‘fenomena facebook yang telah dibahas dalam Al Qur’an’. Ternyata hubungannya ya dengan sifat ‘keluh kesah’ ini.
Sekarang, semua tempat dan media bisa jadi tempat berkeluh kesah. Bahkan sebuah podium pun, yang biasanya menjadi tempat tampilnya orang-orang gede, jadi tempat ‘ngeluh’ yang bagus. ^___^
3 manusia sama-sama memiliki tabungan, sama-sama ngomongin tabungan dan apa yang terjadi dengan tabungannya. Tapi, coba tangkap ‘BEDANYA’ lalu temukan ‘PERSAMAANNYA’.
Orang 1 : “Aduuuh, uang tabunganku sudah habis.”
Orang 2 : “Gajiku belum masuk di tabungan.”
Orang 3 : “Capek, bolak-balik ngambil duit terus.”
Wot du yu ting..?? ^_______^
Related posts:






