Mencoba menengok di kedalaman hati seorang saudari. Mencari retak yang mungkin saja menjadi awal dari patah. Namun, yang kutemukan hanyalah tiang kokoh yang dipertahankan oleh rangkaian senyum. Dan cerita yang mengalir dengan aura ketabahan yang menghijab perih dari mata kami.
Di tengah lantunan yaasiin, aku menelaah ketegaran yang dipancarkan tirus wajah. Keruh pembungkus raga, namun teduh mata mendera pencarianku. Aku terbantai dalam Penasaran. Mungkinkah tabah telah meresap di jiwa anggun.
Tertahan di lidahku, kalimat yang ingin menguatkanmu. Aku dibelenggu ragu, apakah kau atau aku yang sedang lemah. Bisa jadi, telah kau peras lembaran sedih di satu masa di belakang sana. Sehingga kini telah habis laris dibeli tangis.
Ketika banyak yang menepuk pundakmu tuk mengirimkan pesan simpati atau memelukmu erat tuk sampaikan bahwa mereka ikut merasa. Di sudut inipun beberapa tangan, dengan lembut menyentuhku. Dan mengembalikan sadarku. Sedih hari ini adalah milikmu.
Itu.. Tentunya lebih dari satu patah hati. Seperti nafas yang diceraikan dari udara. Layaknya kehidupan yang dipisahkan dari mata airnya. Aaah.. Sakit sekali, meski lengkung itu mengukir nilai lebih tinggi di ruas wajahmu.
Kehilangan belai sayang itu. Lagi-lagi.. Tentu lebih sakit dari patah hati. Mungkin tak kan sepadan dengan cinta yang hadir dari hubungan genetika yang terlalu berestetika.
Kami kan menemanimu cinta.. Meski rasa kita, celupannya tak sekental darah. Sekedar buah dari lingkaran tarbiyyah.
Love u ukhtyfillah..
Related posts:






