Hidup… satu hal, yang terlalu banyak nikmat di dalamnya. Jika kita masih menjelajahkan hati dengan penuh kesyukuran. Bukannya berkalang keluh dan resah tiada akhir. Bahwa hidup yang kita jalani saat ini. Adalah hasil kemenangan kita saat menuju ke alam rahim. Kemenangan yang memang telah di tetapkan Allaah bagi setiap diri, yang akhirnya berhasil menang kembali, untuk mencicipi alam dunia. Alam kenyataan. Yang dengan senang atau tidak. Maka telah, Allaah siapkan sebuah sekolah kehidupan. Bagi siapapun, yang punya cita-cita ingin keluar dari alam dunia. Dan kembali… dalam keadaan… menang…
Seperti hal-nya menjadi seorang guru TK. Siapapun yang dengan sengaja melamar atau ditawarkan oleh teman. Yang akhirnya dia menerima pekerjaan menjadi guru TK. Sebaiknya, dia menyadari bahkan mungkin telah diberi gambaran, bahwa menjadi guru TK, bukanlah hal yang akan selalu terasa menyenangkan. Demikian pula tempat kita ditakdirkan hidup oleh Allaah sebagai manusia, yang senantiasa kita sebut sebagai ‘dunia’ ini.
Diri ini… dirimu… diri kita semua… adalah kefanaan yang Allaah ciptakan. Namun, bukan berarti Pencipta Kefanaan adalah dzat yang lemah. Justru Allaah ingin menunjukkan kuasa-Nya. Dengan menciptakan kelemahan kita ini.
Pernah diri ini teman… terbelenggu pikir yang tak seharusnya. Merana… dan merasa menjadi seseorang yang paling tak berharga. Atas keterbatan segala dalam keluarga. Merasa selalu kurang pada sisi diriku. Entahlah… kadang terbersit… Tak sayangkah Allaah padaku… (saat itu). Astaghfirullaah… Begitulah aku… dahulu. Ku tak rasa… akan ada cinta untukku… ku tak rasa… ada bahagia untukku… Terbayangkah… rasaku… waktu itu.
Than I found YOU… Allaah…
Ya… Dia, Allaah… aku menemukan-Nya… pada sebuah masa tanpa nama. Satu terang tanpa bosan. Dimana pelangi tak hanya tujuh warna. Karena bersama-Nya… ada cinta yang sungguh tak sederhana. Dari lingkaran-lingkaran persaudaraan… taman-taman ilmu… majelis-majelis kaji… Kutemukan satu demi satu puzzle kesadaran akan penciptaan diriku. Maka arena hidupku… menjadi jembatan penyambung rasa… pada satu muara cinta… Allaah…
Ada banyak kesempatan… yang memang coba kita gapai. Namun, belum juga kita sampai. Beberapa berhasil yang terlepas dari rencana dan cita. Sekian banyak mimpi yang masih menjadi dialog hati dan Sang Pembolak-baliknya. Namun, banyak orang berkata… kita belum sukses. Kita belum berhasil. Kita belum kaya. Kita belum memiliki pasangan. Kita belum ini… kita belum itu. Mungkin… ‘belum’ itu… masih dibelenggu oleh satu hal… kesiapan diri… Tak semua kita akan siap menjadi kaya. Tak semua kita, akan siap menjadi berhasil. Tak semua kita, akan siap memiliki keluarga. Hanya ingin memantik hati… Mari… menyiapkan diri…
Manusia yang terlahir ke bumi. Bukanlah sebuah produk gagal… Karena ia pernah menang… di alam sebelum menempati rahim ibunda. Maka, manusia yang telah melewati masa-masa itu (kemenangan sebelum alam rahim)… adalah orang-orang yang sudah seharusnya berhasil. Selama dia mengetahui… menyadari… memahami… dan termotivasi… oleh kemenangan yang pernah ia raih… kemenangan menjadi manusia.
Related posts:






