Sebelas Ramadhan
Selama ini, pun bulan ramadhan. Biasanya kalau di sekolah. Bu guru, mungkin bisa bersenang-senang dan bergembira dengan teman-teman kecilnya di sekolah. Seakan sekolah dan dunia luar adalah dua dunia yang berbeda, meski letaknya di tempat yang sama. Cukup ditenggelamkan oleh keriuhan penuh ceria, yang disebabkan suara-suara canda tawa dari mulut-mulut mungil. Maka sepertinya kami hanya punya satu dunia, yaitu sekolah dalam kebersamaan dengan para usia dini. Karena, setiap sel diri telah lebur bersama kecintaan pada dunia tanpa kesadaran ego ini.
Setiap rasa yang sudah tercurah sepenuhnya, termasuk juga disebabkan tidak adanya media informasi yang dapat dinikmati langsung. Menjadi salah satu penyebab, terisolasinya bu guru dari dunia luar, selama masih jam belajar dan ketika berada di sekolah. Begitulah kondisinya. Sungguh tak bisa dipungkiri, di satu sisi adalah menikmati aktifitas di sekolah. Di sisi yang lain, agak terlepas dari dunia luar, berasa ada kekurangan tersendiri sebenarnya.
Menjadi renungan kembali di ramadhan ini. Teringat peristiwa dahsyat. Tsunami kala itu. Karena seharian berada di sekolah, benar-benar tidak tahu, bahwa ada bencana besar dan tragis, di Aceh. Baru sampai di rumah, hampir maghrib. Setelah maghrib, baru bisa nonton TV. Baru tersentak, mendengar tentang gelombang besar yang menyebabkan ratusan ribu manusia kehilangan nyawa. Antara sebuah penyesalan, karena baru mengetahuinya, dan kesedihan yang sangat atas terjadinya peristiwa yang sungguh-sungguh sangat luar biasa itu. Tak terasa, gumpalan rasa yang terbentuk tiba-tiba, berebutan untuk menghambur keluar bersama air mata.
Kemudian, berlakulah kejadian yang lainnya. Semuanya terlewatkan, persis seperti tsunami yang melanda. Apalah daya, di luar kuasa meskipun begitu ingin, tidak menjadi orang terakhir yang menyampaikan bela sungkawa dan mengungkapkan kesedihan atas apa yang menimpa saudara-saudara yang nun jauh tempatnya. Toh, tetap menjadi yang belakangan juga.
Hingga akhirnya, situs bernama facebook ini, menjadi bagian dari satu keisengan yang biasanya aku coba. Kala itu, banyak orang bicara tentang facebook. Mencicipi hal baru, adalah sesuatu yang paling aku suka. Kecuali makanan jenis baru.
Maka bergabunglah di facebook, yang awalnya memang hanya bentuk keisengan, keingintahuan yang memenuhi pikirku. ”Apaan sih ya facebook itu..??” Alhamdulillaah.. keisengan yang membawa berkah. Salah satunya adalah, berita semacam tsunami, tak pernah terlewatkan lagi. Pun menjadi satu berkah kala ramadhan. Berkah silaturahim hingga ukhuwah yang makin solid.
Bagaimana tabrakan dua kereta api, yang menimbulkan korban jiwa yang cukup banyak kala itu, bisa kuketahui, kala siang hari masih di sekolah ketika teman-teman kecil baru saja berhamburan keluar kelas. Demikian juga jebolnya Situgintung yang mengejutkan negri. Pula gempa Jogja yang memilukan. Terakhir, kembali gempa Jogja melanda. Lima skala richter, di hari kesebelas ramadhan 1431 Hijriyyah. Membaca update status seorang saudari, yang saat itu sedang KKN. Ketika gempa, ia sampai berlari ke bawah tanpa menggunakan jilbabnya. Berlari sekencang-kencangnya, sedangkan di kakinya masih ada sebuah luka yang dijahit dan belum kering. Namun, satu ketakutan membuatnya tidak merasakan sakit itu. Begitulah.. jadi bisa merasakan gelombang rasa, dalam waktu yang tidak terlalu jauh. Daripada yang biasanya, ketika gejolaknya mereda, baru bisa terkejut belakangan. Seperti seseorang yang telat tertawa atas kelucuan seorang pelawak. Tentu sesuatu yang memalukan. Meski yang ini, bukanlah sesuatu yang memalukan. Namun, rasanya agak kurang memberi kesan yang mendalam.
Di tengah-tengah bencana dan peristiwa luar biasa di negri kita. Jadi memikirkan mengapa kotaku ini, Balikpapan, menjadi satu tempat yang termasuk paling jarang atau bahkan hampir tidak pernah dilanda bencana atau peristiwa-peristiwa yang luar biasa seperti tersebut di atas.
Ada dua hal yang kemudian terbetik, sangat memungkinkan menjadi penyebabnya. Diambil sebagai hasil merenungkan hal-hal di atas. Kejadian-kejadian di atas, bisa jadi merupakan cobaan, dan bisa pula merupakan bala/ azab. Namun, bukankah Allaah itu sesuai prasangka hambanya..?? Maka meyakinkan diri untuk berhusnudzan kepada Allaah, dengan menganggap semua itu adalah cobaan dan sebuah teguran kecil. Tanpa melewatkan kesempatan untuk koreksi diri.
Balikpapan, jika dilihat secara umum, kondisi kehidupan masyarakatnya. Adalah kota yang penduduknya, bisa dianggap santai, penikmat kehidupan yang menyenangkan, cukup konsumtif dan sedikit rapuh dalam motivasi. Untuk hal yang terakhir. Diriku hanya mencoba mengambil hikmah dari banyak kisah dalam hal melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Orang tua termasuk anak-anak di Balikpapan, pada umumnya lebih menyukai untuk bekerja setelah usai SMA. (Meskipun, tidak semua keluarga kondisinya seperti itu. Lagi pula, belakangan kondisi seperti ini mulai berubah) Berbeda dengan kisah teman-teman yang berasal dari daerah Jawa, Sumatra dan beberapa teman dari daerah lain. Bagaimana mereka sangat termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan segala bentuk perjuangannya, jatuh bangunnya dalam mengejar cita-cita.
Hal ini, membuatku berpendapat, bahwa ada perbedaan tingkat daya juang yang cukup signifikan. Antara kebanyakan orang di Balikpapan (tepatnya, mereka yang sudah lama hidup di Balikpapan, termasuk keluargaku) dengan mereka yang ada di daerah lainnya. Seperti halnya, ada perbedaan dua pasangan ayah bunda. Ketika pasangan yang satu diberi anak yang normal fisiknya. Sedangkan pasangan kedua memiliki anak yang istimewa dalam perkembangan fisiknya. Melalui ini, selalu aku yakini, bahwa Allaah tak pernah memberi beban satu ton, kala sang hamba hanya mampu menerima beban seberat satu kuintal. Tidaklah Allaah, panjangkan perjalanan kita menjadi ribuan mil, pada seseorang yang hanya mampu berjalan hingga satu atau dua kilo saja. Anak istimewa, akan diberikan kepada orang tua yang istimewa pula. Tidak dibebankan kepada kita, sesuatu yang tiada sanggup kita pikul. Karena Kemaha Adilan-Nya.
Begitulah hubungan antara bencana, kotaku Balikpapan dan daerah lain yang terkena bencana. Lihatlah Banda Aceh, yang menggeliat bangkit, setelah jatuh pada sebuah titik nadir. Beralih ke Jogja, yang pula dalam sekejap berbenah dengan cepat. Meski trauma rasa masih membekas, namun kebangkitan itu terlihat nyata. Daya juang atas sebuah kebangkitan, tergambar pada daerah-daerah di indonesia yang terkena bencana.
Berdo’a, bahwa hal itu tidak akan menimpa kotaku. Namun, kembali menarik benang merah antara daya juang yang cukup rendah, dengan tiadanya bencana. Cukup menjadi satu pemikiran tersendiri. Seseorang yang dicoba, telah dibekali kompetensi khusus untuk berjuang, bertahan lalu bangkit. Dan sungguh masih terpikir, bahwa tanpa cobaan, mungkin, seseorang memang tidak disertakan bersamanya kemampuan untuk survive atau satu ketrampilan yang belum terasah dengan sungguh.
Maka, bersabar atas cobaan, selanjutnya dan sebaiknya atau seharusnya, membawa seseorang pada langkah syukur. Karena dengan cobaan, berarti sedang ada sebuah ujian naik kelas, naik tingkat dari kemampuan kita untuk bertahan hidup dengan segala dinamikanya. Semoga, menjadi cermin bagi mereka yang belum terlatih untuk mengarungi gelombang yang kadang bergejolak sangat garang.
Percayalah, melatih manusia dengan segala bentuk ujian. Adalah salah satu cara Allaah memberi kesempatan pada manusia tersebut untuk menunjukkan eksistensinya sebagai manusia yang tangguh. Manusia tangguh akan kuat memegang amanah. Manusia perkasa akan mampu menjalankan segala sesuatu yang dibebankan kepadanya dengan lebih maksimal. Karena daya juang manusia tangguh, telah diasah sedemikian rupa pada setiap diri. Hingga iapun menjelma menjadi ketangguhan kolektif. Ketangguhan kolektif inilah, yang kan menyelamatkan lebih banyak orang. Ya ya ya.. di akhir tulisan ini, aku temukan dua kata itu.. ketangguhan kolektif. Lebih dari sekedar kebangkitan diri, tapi kebangkitan daerah, bangsa, negri.. kebangkitan umat. Umat tangguh..?? UGH..!!!
Semoga kita semua bisa..
Related posts:







Seruling yang merdu, bukan karena bambunya saja. Sang peniup seruling adalah penentu iramanya yang indah. Dikau sungguh menawan…
CahNdeso> Alhamdulillaah..
Menawan..?? terimakasih (Ge Er) hehe