Alhamdulillaah, sejak kemarin memulai kembali kuliah. Mengejar mimpi, dengan menguatkan setiap sisi diri. Biar ga berasa berat. Apalagi mesti mengalami penurunan semangat. Owh.. berharap tidak. Inilah aliran yang mesti kulalui, dengan perahu kehidupan. Jelajahi lautan ilmu dengan belajar dan mengajar. Penuhi hati dengan energy yang dihasilkan dari keyakinan pada Sang Pemilik Hidup, inilah jalan terbaik yang telah diberikan-Nya untukku. Kalaupun ada sebuah asa dalam hati yang belum mencapai tujunya. Bersyukur, Allaah masih menemaniku dengan lapangkan jiwaku saat ini. Sekali lagi, Alhamdulillaah. Thank You Allaah.
Aku ceritakan dulu tentang kelasku ya. Ini termasuk kelas unik di kampus kami. Kelas kami berisi guru-guru TK dan PAUD yang sebagian besar adalah ibu-ibu berusia baya. Bahkan ada yang sudah menjadi nenek. Ini adalah kelas eksekutif, yang hanya akan berlangsung selama 2,5 tahun. Dibuka khusus untuk para guru TK dan PAUD yang sudah mengajar di atas 2 tahun. Maklum, ada satu undang-undang yang menagancam keberadaan guru-guru TK dan PAUD yang belum S1. Bahwa, tahun 2014 nanti atau 2015 ya..? (lupa) hehee. Semua guru TK dan PAUD harus sudah berpendidikan S1. Kalau tidak, maka kami akan di depak dari TK, alias ga boleh ngajar lagi. Oh.. tidaaaaaaaaaaak.. Maka berbondong-bondonglah kami memasuki jurusan yang baru dibuka di kampus kami. Jadi, kami ini adalah angkatan pertama. Ingat, jangan mengekor, jadilah pelopor.
Sebenarnya, bukan masalah apa ya. Tapi, kami masih mencintai dunia TK dan PAUD. Kami berharap, dengan usaha kecil ini. Kami masih tetap bisa bermain dengan teman-teman kecil kami.
Waduh..!! pembukaan yang terlalu panjang. Sorrykeun, maafkeun, afwankeun yaa…
Hari ini, bertemu lagi dengan satu dosen, yang saat semester satu mengajarkan kami tentang pancasila. Kemudian beliau menghilang di setahun berikutnya. Beliau terlihat berbeda dari setahun yang lalu. Lebih kurus, bergerak tak segesit dahulu dan bicara dengan perlahan. Namun, satu hal yang tidak berubah. Cara beliau mengajar. Tahapan yang dijalani, selalu perlahan dan detil pada teori yang sebagian besar, memang kami belum mengerti. Sepertinya, beliau paham kondisi teman-teman yang usianya memang sudah lumayan meng-ibu-ibu dan memang biasanya suka mengeluh, jika dosen menjelaskan terlalu cepat. Jadilah kami yang sedikit lebih muda ini, mengikuti irama mereka. Maklum, kami adalah golongan minoritas. Hehee.
Mata kuliah sudah berjalan beberapa menit. Namanya juga dosen. Maka, keluarlah beberapa istilah yang agak asing di telinga kami. Monev, Empiris dan beberapa kata lain. Serius ini, diriku juga belum pernah dengar. Kalian mungkin sudah ya..?
Selain kata-kata yang baru, muncul juga istilah-istilah lama, yang memang pernah beliau sampaikan pada beberapa di antara kami. Bila beliau menyebutkan salah satunya. Maka, ditanyakannya kepada kami, “Ayo, artinya apa..?” Sebagian kata-kata itu masih bisa kuingat. Tapi, untuk sebagian kata lainnya, aku mengalami kesulitan untuk memanggilnya kembali. Kita biasa menyebutnya, LUPA.
Sehari sebelum ini, seorang dosen wanita, yang akan mengakhiri mata kuliah-nya, meminta maaf, jika pertemuan pertama kami dengan beliau belum terlalu sistematis. Karena pertemuan awal itu, memang beliau rencanakan untuk perkenalan saja. Beliau juga meminta kami memaklumi setiap kekurangan beliau. Karena usia yang mirip dengan ibu-ibu rekan kuliahku, beliau telah mengalami PDI. Sejenak usai diucapkan, kami mencoba mencari maksudnya. Belum sempat kami temukan jawabannya, beliau sudah menjawab. PDI itu, Penurunan Daya Ingat.
Nah.. hari ini, ketika pak Dosen mengeluarkan beberapa istilah dan menanyakan artinya kepada kami, beberapa kali pula kami mengatakan kami LUPA.
Hingga tiba pada seorang ibu, yang memang sering nyeletuk. “Ayo bu.. apa artinya UNIVERSAL..?” Sang ibu tergagap karena tak sanggup menjawabnya. “Masak LUPA lagi bu..?”
Dengan nada suara yang lucu, si Ibu menjawab, “Maklum pak, saya kan sudah PDI.”, disambut dengan tawa oleh teman seantero kelas.
“Apa itu PDI..?”, Tanya pak Dosen.
“Penurunan Daya Ingat, pak.”, jawab seorang teman yang lain.
“Bersyukurlah, anda tidak kena stroke.”, kata beliau dan dilanjutkan dengan kisah absennya beliau dari kampus, karena sakit yang beliau derita itu. Bagaimana, kondisi memori beliau yang terganggu. Banyak hal yang beliau tidak bisa mengingatnya dengan baik. Sampai masa pemulihan pun, ingatan beliau belum kembali sepenuhnya.
Aku hanya menatap pak Dosen dengan tatapan dalam. Di tengah cerita beliau, aku memikirkan jawaban teman-teman dan jawabanku tadi. Saat tak bisa menjawab arti dari istilah-istilah yang beliau tanyakan. ‘Lupa.. Lupa.. Lupa.’ Atau bukan lupa ya. Tapi, tidak berusaha lebih keras untuk mengingat. Ish.. ish.. ish.
Usai mata kuliah beliau, aku terus memandang kea rah pak dosen, hingga beliau menghilang ke ruangannya.
“Bener banget pak. Bersyukur, kami tidak kena stroke. Bersyukur, aku masih muda. Bersyukur, belum terlalu banyak masalah yang bergejolak di ruang pikirku. Seharusnya, maksimal dalam menggunakan segala potensi. Sebaiknya, berusaha lebih keras memanfaatkan setiap anugrah. Makasih pak Dosen, saya bersyukur bertemu bapak lagi semester ini.”
“Otak, bersyukurlah kita, kita tidak kena stroke.”
Related posts:






