Limabelas Ramadhan
Terasakah olehmu kawan, bagaimana hangatnya aroma semangat yang bergelora di setiap hati semua muslim. Kegembiraan dan kesyukuran atas pertemuan yang dinantikan sejak lama. Perjumpaan dengan sang ramadhan ini. Tampaknya, tiada pengecualian untuk hal ini. Bahkan, bagi seorang berhati buruk pun, bisa menjadi berbeda jika Allaah beri ia kesempatan bertemu Ramadhan. Kedatangan ramadhan, atas izin Allaah, sungguh sanggup merubah banyak hal dalam kehidupan kita.
Gelora ramadhan membahana. Semua tentunya berusaha memenuhi setiap waktunya dengan manfaat. Hingga membuat di awal ramadhan, sebuah masjid, yang biasanya hanya berisi satu atau dua shaf. Kesadaran (atau hanya sebuah euforia..??) ber-ramadhan, menjadikan barisan itu bertambah. Hingga tumpah ruah ke halaman masjid. Para remaja tanggung, yang biasanya sulit diajak shalat. Tiba-tiba berkumpul dengan mukena dan sarung, di shaf belakang. Para ibu membuat janji ke masjid dan tiba waktu shalat, menantikan sang tetangga di pinggir jalan. Kemudian, pergi beramai-ramai ke masjid terdekat.
Sebuah al qur’an lusuh, tiba-tiba sering disentuh. Dibaca lirih, setiap huruf tiada tersisih. Setia melantunnya hingga berbuih. Waktu melambat, dengan setiap ayat terucap cepat. Berusaha tepat, menjemput rahmat dengan membaca sesuatu yang lebih beradab. J Hmm.. begitulah awal ramadhan. Biasanya..
Sehari.. dua hari.. tiga hari.. sepekan.. sepuluh hari. Maka barisan rapat di rumah-rumah Allaah pun kehilangan prajuritnya. Entah sedang melanglang buana kemana. Kalimat “Amiin” yang menggetarkan, seketika surut dan meredup. Remaja-remaja tanggung yang awalnya ramai, masih juga datang ke masjid. Namun, mereka tak lagi berada di shaf belakang. Hanya berkumpul sejenak di beranda masjid, kemudian pergi menjemput kesenangan.
Hingga separuh ramadhan berlalu. Maka sedikit demi sedikit, terkikislah untaian tilawah. Berguguran raka’at-raka’at khusyu. Mulailah penuh mall dan pasar. Mulai banyak yang kesiangan. Begitulah biasanya, awal ramadhan yang kemudian berlalulah setiap kesungguhan itu, bersama perginya separuh ramadhan.
Biasanya begitu.. begitulah biasanya ramadhan.
SEKARANG..!!
Mencoba.. berusaha sekuat tenaga kita kawan, kita hentikan itu. Mari.. kita merubah ramadhan-ramadhan kita yang biasanya itu, menjadi ramadhan yang tiada biasa. Lepaskan kebiasaan beramadhan dengan semangat yang menurun, seiring tanggal-tanggalnya yang bertambah. Jika awal ramadhan bisa melakukan satu amalan, maka semakin berakhirnya ramadhan, lakukan amalan lebih dari satu. Jika awalnya hanya fokus untuk melaksanakan yang wajib, maka seiring mendekati Syawal, tambahkan yang sunnah. Jika kita memulai ramadhan, dengan bara semangat, maka seiring bertambahnya hari-hari ramadhan, jadikan ia semangat yang terbakar.
Siiiip.. Mari kawan.. membalik kebiasaan ramadhan..!!
Related posts:






