Saya tahu.. Mungkin Saya paling tahu. Atau memang ada yang lebih tahu. Bahwa ‘bekerjasama’ adalah pekerjaan berat bagi seseorang yang kurang bersosialisasi.
Mmm.. That’s me.
Sebenarnya sangat nyaman, lebih nyaman, feel free, kalau bisa mengerjakan semuanya sendiri. Semua di ide-in, semua direncanakan, semua dikerjakan sendiri. Ga perlu khawatir akan terjadi gesekan-gesekan yang hanya menghambat dan memperlambat pekerjaan. Sayangnya, perasaan nyaman saya untuk bekerja sendiri daripada bekerjasama itu, masih bertahan sampai sekarang ini lho. Saya tidak terlalu menyukai interaksi yang intens, saya kurang menyukai diskusi-diskusi yang sampai pada tahap debat , saya kurang menyukai suasana ramai. Kalau ada undangan yang orangnya ga kenal-kenal banget, saya merasa ‘perlu’ untuk tidak menyambut undangan itu. Well.. feel bad.
Kelemahan saya yang terburuk adalah, saya mudah menyerah. *Semoga pada percaya ya.. hehe. Bahkan sebelum saya memulai sesuatu*
Hingga seseorang pernah berkata sebuah kalimat yang lucu. Namun, sanggup membuat saya ‘terbangun’.
Kala itu kami sedang membicarakan tentang jenjang pendidikan. Bagaimana seseorang yang sudah berumur, masih ngambil S2, S3 dan lain-lain lagi pendidikan yang memaksa mereka untuk terus berpikir dan belajar. Dilanjutkan tentang teman-teman yang baru memulai program ‘pascasarjana’-nya. Ikut berbahagia bagi mereka yang mulai meninggi ke langit biru. Namun, kemudian bertanya-tanya.. saat mereka sudah melayang ke angkasa, kita sendiri ada di mana..?
Pembicaraan yang ngalor-ngidul, kesana-kemari itu ditutup dengan tawa karena sebuah kalimat yang diucapkan seorang teman, “Yaaah, kalau mereka ‘pascasarjana’ kita yang ‘paksasarjana’ dulu deh.”
Tertawa..? Jelas saya tertawa. Wong saat itu, saya memaksakan diri menjadi sarjana aja enggak kok. Hehe. Masih nyaman menyandang pemilik data ‘jenjang pendidikan terakhir SMK’. Masih bangga. Meski sebagai lulusan SMK, saya bisa jadi guru TK, saya percaya saya terlahir sebagai guru. Alhamdulillaah, Allaah ‘dorong’ saya ke kolam ini. Toh akhirnya… saya juga berpikir. Dunia saat ini, punya ‘mata’ yang menilai sesuatu dengan ketinggian yang tidak manusiawi. (mulai deh) :p Maksudnya ketinggian yang tidak manusiawi. Ya begitulah. Manusia itu kan wujud dan hidup dalam kondisi yang berbeda-beda. Misalnya saja : Tiga orang, bisa memiliki pengetahuan yang sama-sama mumpuni tentang psikologi. Tapi, ketiganya juga memiliki cara dan jalan yang berbeda untuk menguasai psikologi itu. Satu di antaranya telah mengenyam fakultas psikologi, yang satunya banyak membaca buku psikologi, dan yang satunya merupakan praktisi psikologi tanpa embel-embel professional. Bisa saja yang terakhir itu, seorang sukarelawan di bangsal pengungsian dari sebuah daerah tertentu atau bisa saja seorang yang selama hidupnya menjadi seorang asisten ‘toilet training’ di sebuah sekolah. Mungkin saja kan, jika ia banyak mengamati dan mampu menganalisa dari apa-apa yang dilihat dan dialaminya. Naah, dunia tidak memandang ‘perbedaan’ itu. Mata dunia kebanyakan memandang status, gelar dan lain-lainnya sebagai sesuatu yang akan diperhitungkan.
Dan kemudian perenungan yang panjang, membuat saya paham dan kemudian ‘memaksa’ diri untuk ‘meninggikan diri’ di mata dunia kebanyakan. Saya tidak mungkin terlihat ‘meninggi’, jika tidak terlihat menampakkan diri. Setidaknya, menunjukkan potensi. Supaya orang melihat itu, toh mesti bersosialisasi lebih sering dan dengan lebih banyak orang. Wujudnya, memaksakan diri untuk menghadiri undangan-undangan. Meskipun masih saja tidak nyaman. Memaksakan diri, untuk hadir di rapat-rapat. Toh tetap juga seringkali susah memberikan ide secara verbal. Memaksa diri untuk sesekali mengkonfrontasi pendapat seseorang yang ga cocok di hati dan pikiran. Hasilnya malah bikin diri sendiri yang diam dan mewek sejuta bahasa.
Meskipun masih begitu.. saya berusaha untuk terus ‘memaksakan’ diri. Mencoba menyamakannya dengan bangun malam yang ga dipaksa, maka akan tertidur seterusnya. Mengaji satu juz yang ga dipaksa dulu, maka selanjutnya ga akan sampai satu juz, satu hari. Seperti olahraga yang kalau ga dipaksa, akan meng-gendut seterusnya (atau tidak sehat dan fit selamanya) ^_______^
Ehm.. begitulah menurut saya..
Pemaksaan diri, bukanlah sebuah aktifitas ‘pendzaliman’ terhadap kepribadian. Namun, tempaan. Seperti layaknya tempa, terhadap besi, hingga ia layak menjadi pedang.
HAI DIRI..!! AYOLAAAAAH..!!
Related posts:







Subhanallah tulisan’y benar” menginspirasi. Sukses sllu n smoga ??????? sllu memberkahi dn melindungi…
Aamiin yaa Rabb..
Makasih ya Za, udah mampir di sini.