Jika Hijrah merupakan bagian dari perilaku taat. Maka menulis juga taat. Taat pada mimpi. Sehingga ia tak henti tuk mengusahakan tereksekusinya ide. Jika mimpi itu tinggi, maka seorang yang ingin menggapainya, taat dengan rel yang menuju ke mimpinya. Ia taat membina bahtera yg kan melayari hidup ke pulau mimpi. Layaknya hijrah menuju Allaah, yang bagi seorang muslim adalah hijrah ke arah kebaikan penerang jalannya ke arah Rabb-nya.
Jika hijrah adalah kerinduan. Maka menulis pula mengandung kerinduan. Meniru terpisahnya bumi dan langit yg melambangkan kerinduan. Dituliskan sebagai spasi pada setiap masa usainya sebuah kata. Spasi adalah jarak yang menuntun setiap kata untuk terus merindukan kata berikutnya. Seperti hijrah yg dilakukan krn merindukan kebebasan.
Jika hijrah adalah cinta. Maka menulis pula sebuah cinta. Penulis mencintai setiap kata dalam karyanya. Dirangkainya sedemikian rupa dengan setiap hembusan rasa yg buncah dalam dadanya. Penulis mencinta ide, lalu ia berlarian mengejar waktu demi selembar ide yg telah terurai, burai di tegaskan pena-nya.
Jika hijrah adalah pengorbanan. Maka menulis adalah pengorbanan. Di mana kau mengorbankan kantukmu demi secarik imaginasi yang tak rela tuk jadi basi. Mengelana pikir meski lelah setelah bergerak bersama sang terang dan rutinitas. Namun, pengorbanan itu begitulah. Kau tak hitung waktu yg habis. Hanya lega krn imaginasi yg terlayani.
Jika hijrah adalah kewaspadaan. Maka menulis adalah kewaspadaan. Ketika kehidupan menulis merupakan pilihan. Maka seorang yg ingin menulis mesti mewaspadai virus2 yg menyakitkan pula mematikan. Hama lidah tajam para pecundang, yang banyak kritik dan celaan. Sehingga produk lisannya tak sanggup menyentuh hati. Waspadai pula bakteri diri bernama kemalasan dan beralasan. Semakin waspada maka imun diri makin kokoh dalam menumpas hama-hama perusak tulisan.
Jika hijrah adalah perjuangan. Maka menulis juga perjuangan. Ketika semua, awalnya terasa berat. Senyum pula terkembang. Pelan namun, pasti menghapus semua ‘berat’. Melenyap setiap ‘susah’. Lalu segalanya berubah manis. Pena yg terdiam mulai direka alurnya, dibuat settingnya, dan hadir pula tokohnya. Lalu tulisan itu mewujud kejadiannya. Perjuangan tak kenal apa saja tantangannya. Namun perjuangan mengenal pejuangnya yang terus ingin memenangkan diri dr kerapuhannya. Tangguh.
Pribadi yang hijrah dalam menulis. Lebih baik.. Lebih bermanfaat.. Lebih dan lebih..
Be Inspiring Or Be Inspired
Tulis than publish
Semangat MENULIS untuk menuliskan SEMANGAT
Related posts:






