Enambelas Ramadhan
Sungguh sulit menjaga keteguhan.. Di tengah-tengah megah gempita keduniaan.. (mesti terus banyak belajar)
Ketika menjalankan program pribadi.. Ramadhan Sepenuh Hati. Alhamdulillaah Allaah masih beri hati yang semangat tuk terus menulis. Tapi, maksudnya sih puasa facebook, keliling-kelilinglah di blog teman. Malah menemukan info lomba menulis yang sedang berlangsung di facebook. Being Addicted wrote nih. (semoga ga mabuk) Dengan senang hati (bukannya terpaksa) online. Banyak nulis, banyak ikut lomba nulis, banyak menuliskan, banyak dituliskan, memperbanyak tulisan. Insyaa Allaah, masih on program juga. Ramadhan, satu hari satu tulisan. Mohon do’anya. Supaya bisa berlebaran, dengan 29 atau 30 tulisan.
Kemarin ikutan lomba menulis yang cukup unik. Hehe. Baru kuketahui ada tulisan seperti itu. Membuat cerpen hanya dengan 200-250 kata. Sebutannya Flash Fiction. Berkeras ingin ikut. Jadilah tulisan ini.. (ini, sudah di edit)
Lamaran Dunia Maya
Akhirnya, pesan-pesan inbox itu aku perlihatkan ke bapak. Pesan-pesan dari seorang teman di friendlist, yang berniat melamarku. Karena, ternyata, lelaki itu mengirimkan lamaran langsung ke inbox bapak. Meminta bantuan untuk membujukku, setelah banyak pesan yang dikirimkannya, aku diamkan tanpa balasan. Kata-katanya memang syahdu. Namun, sejak awal, aku telah berusaha menolaknya secara halus. Sungguh, bukan karena tidak percaya dengan keshalihan atau kebaikannya. Karena, diriku ini, orangnya mudah percaya pada siapapun. Meski kadang juga penuh kewaspadaan. Hanya, masih tak berharap ada hal istimewa terjadi melalui media ini. Walaupun, bisa saja takdir Allaah menghadirkan Kuasa-Nya yang berbeda dari inginku.
Sejak pertama aku ceritakan kepada mamak. Beliau sudah menganjurkan untuk menerima lamaran itu, dengan mengirimkan biodata dan fotoku.
”Sudah nak, diterima saja. Orangnya serius gitu. Sampai mau kesini kan..?? Padahal beda pulau.”, kata mamak. Lebih bernada bujukan, jika tak bisa kusebut paksaan.
Aku hanya diam.
”Apalagi yang kamu tunggu. Usia nak.. usiamu itu loh. Kasihan anak-anakmu nanti.”, kalimat yang selalu membuatku hampir roboh. Tak sanggup menyangkal.
Aku menatap punggung bapak, yang masih serius menekuni pesan-pesan inbox itu. Tiba-tiba beliau berbalik dan berkata, ”Sudah ya nak, terima saja pemuda ini.”, wajah beliau sudah basah oleh air mata. Seperti ingin melepas satu ton beban. ”Menikahlah segera, nak.”
Ketabahan menanti jodoh itu ’jebol’. Pun tak kan sanggup kususutkan airmata beliau dengan kata-kata tolakan. Seketika, kuturuti permintaan lelaki mungil bersahaja itu, dengan mengirimkan pesan, berisi foto dan biodataku itu, kepada lelaki, yang katanya sudah beristikharah, dan menemukan petunjuk Allaah, bahwa, akulah wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Sehari.. Dua hari.. Tiga hari.. Hingga berhari-hari tanpa balasan. Tanpa keputusan. Lelaki itu, menghilang. Giliran aku yang menangis. Kucoba lapangkan hati, bukan salah bapak, bukan salah mamak. Salahku.. ini salahku..
Satu lagi, lomba lucu di hari yang sama.. Meski tiada kabarnya.. ![]()
Berkreasi dengan kata ZEE..
*ReflekZEE diri akan ZEEjati.. ketika jernih ZEErmin jiwa.. dan berZEEnarlah ZEEkap nan ZEEtia.. ketika ZEEmua sel diri.. ber-ramadhan ZEEpenuh hati..
*Yuk ZEEmua.. ZEEgar diri.. BerZEEh hati.. Ramadhan ber-enerZEE.. ZEEmangkok.. ZEEmangka.. ZEEmangaaaat.. ZEEppp laaah..
Related posts:







