Sepuluh Ramadhan
Mari membicarakan prioritas.
Kala kita memiliki banyak hal untuk kita lakukan. Maka ada hal-hal penting yang mesti kita perhatikan. Kadang diriku bingung. Aspek apa yang perlu diperhitungkan. Bahkan, dari sekedar dua pilihan, hadirlah banyak persoalan di antara keduanya. Penting-tidak penting-kurang penting. Bermanfaat-tidak bermanfaat-kurang bermanfaat. Perlu-tidak perlu-kurang perlu, juga yang lainnya. Biasanya menimbulkan dilema yang berkelanjutan. Pun hingga pilihan itu sudah ditentukan dan sudah dikerjakan. Ketika pilihan itu menimbulkan akibat yang tidak diharapkan, ada pula yang menyesali dan akhirnya merubah pilihan atau membatalkan pilihan atau apalah..
Masing-masing kita, bisa saja memiliki pilihan-pilihan yang berbeda. Namun, tentu ada yang mirip, bahkan sama. Lalu, untuk menentukan sebuah prioritas, semuanya tergantung pada individu-individu, dengan jiwa yang berbeda, otak berbeda, kondisi lingkungan berbeda, atmosfer rasa yang melingkupinya, orang-orang yang mendukungnya, dan yang penting adalah keyakinan yang menyelimuti hatinya atas pilihan-pilihannya. Setiap aspek mempengaruhi keberhasilan, kesuksesan dan pencapaian puncak dari setiap pilihan.
Begitulah hidup kan..??
Ia adalah pilihan-pilihan yang menjadi amanah dari kedewasaan kita. Masalah adalah beban yang Allaah titipkan untuk kita pikul dan membawanya pada penyelesaian yang sebaik-baiknya. Seiring dengan hidup merupakan pilihan. Ia pula adalah keputusan. Pilihanlah yang mengalirkan kehidupan kita pada satu titik. Lalu, keputusanlah yang menempatkan kita pada titik berikutnya. Bisa jadi, di titik yang berikut itulah, kita temukan kembali pilihan-pilihan yang lain. Jika tak ada pilihan, pikirkan kembali, masih hidupkah kita..? Atau, jika kita merasa takut mengambil keputusan dari semua pilihan-pilihan itu, maka renungkan kembali, masih ingin hidupkah kita..?
Hari ini, sepuluh Ramadhan. Malam ke sebelas. Ada banyak hal yang kita sudah bagikan di sini. Sekelip kata, setatap aksara, atau segenggam kalimat yang terus tertata. Tiada satu hal pun yang sia-sia. Insyaa Allaah. Semuanya menghasilkan kegembiraan. Di tengah-tengah aktifitas berbagi beberapa hal yang kita punya. Hasil olah pikir, produksi dari dzikir dan hal lain yang membuat kita bisa saling memberi dan menerima dengan tetap lapang dada. Karena Rasuulullaah pernah bersabda,
Afdhalul iimaana ash shabru was samaahah, sebaik-baik iman adalah kesabaran dan lapang dada.
Dan itulah semoga yang berlaku pada hati-hati kita. Sabar atas kritik, lapang dada atas setiap canda yang mungkin tanpa sengaja membuat luka. Ya ya ya, setiap kalimat di beranda facebook, selalu membawa keistimewaan tersendiri. Dan aku selalu, ‘suka’.. ‘like’.. ‘suka’.. ‘like’.. meskipun jarang mampir nge-klik ‘suka’-nya. (Harap dimaklumi)
Ramadhan dengan facebook sungguh, tak mengganggu, segala sesuatu yang kita sebut sebagai ibadah. Sangat tidak mengganggu. Karena begitulah Allaah menetapkannya. Di facebook, atau di kenyataan hidup, jika niat kita untuk kebaikan, untuk melaksanakan tanggung jawab kehidupan kita sebagai hamba, untuk beribadah, maka itulah ibadah. Setiap amal itu tergantung pada niatnya. Setelah tahu hal ini, mencoba sekuat tenaga, berusaha sekuasa kita untuk meluruskan setiap niat dalam gerak dan langkah. Baik gerak dan langkah dari tubuh kita atau gerak dan langkah dari hati kita. Keduanyalah yang menghasilkan harmoni menarik dari sebuah pelaksanaan ibadah. Gelora hati yang jernih, dan semangat tubuh yang bersih. Hingga ibadah, mendapat haq-nya untuk terlaksana dengan sempurna, demi menyempurnakan haq Allaah atas pengabdian kita.
Dan.. tinggallah duapuluh hari lagi kawan. Ramadhan, masih bersedia duduk di sisi kita. Atas perintah dari Rabb-nya, Rabb-ku, Rabb-mu, Rabb kita. Dua pertiga dari sebulan yang padanya ditebarkan berkah. Dibagikan pahala. Berserakan pula di atas bumi ini, amal-amal yang siap kita kumpulkan. Siapa lebih dulu, siapa lebih banyak, tentu akan berbeda cahaya jiwanya dari pada mereka yang belakangan dan mereka yang sedikit mengumpulkan amal-amal itu.
Kini, hari ini.. pagi tadi tepatnya. Muncul pilihan dipikirku. Ingin sepenuh hati bersama Ramadhan yang duapuluh hari. Mempererat pelukanku padanya. Menyampai kalimat rindu yang sepuluh hari ini tersendat. Ingin mencintai ramadhan, lebih dalam. Ingin bersahabat dengannya lebih dekat. Ingin mengeja syukur bersamanya atas pertemuan kami tahun ini. Mengejanya sepenuh rasa.. S Y U K U R. Ingin menjaga sabar bersamanya. Menjaganya setiap masa.. S A B A R. Dua hal yang kan hidupkan pagi, siang, sore, senja dan malam kami, insyaa Allaah. Hidup yang sebenar-benarnya hidup.
PILIHAN sudah ada.. Dan KEPUTUSAN sudah dibuat. Inilah prioritasku saat ini. Inilah hidupku mulai detik ini. Dan, inilah ramadhanku kali ini.
Mohon maaf atas setiap khilaf dan salah. Fian ini manusia biasa, fana, penuh dosa. Jika dalam perjalanan kita, ada kaki yang terinjak tanpa sengaja, ada tubuh yang tersikut tanpa disadar, ada rasa yang terluka. Mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Semoga Allaah pertemukan kita di ujung Ramadhan.
*Tetap sayangi USIA DINI yaa.. ^_^
*Semangat MENULIS untuk menuliskan SEMANGAT..
*Tiada senang.. sebahagia pertemanan.. ^_^
Related posts:







dan PILIHAN akan selalu bebas, beruntunglah mereka yang menyucikan…^_^
ya Adit.. tapi ternyata dalam pilihan ini, agak sulit meneguhkan hati. hehe. Giliran blog walking, nemu info lomba yang sedang berlangsung di FB. jadi, dengan senang hati (bukannya terpaksa) online lagi deh FB-nya. Meskipun online-nya di akun yang kedua.
Yaah, semoga ga mengurangi semangat ber-ramadhan sepenuh hati..