Duabelas Ramadhan
Baru saja membaca sebuah catatan yang sederhana. Tapi, sanggup membuatku terharu biru. Hu hu hu. Sedangkan, ceritanya bukan tentang kesedihan, bukan tentang sesuatu yang tragis. Bukan begitu.. Sungguh, yang terasa saat membacanya adalah, syahdu. Meskipun.. ngebuuuut. (maksud.. maksud..?? fokus euy) ^_^ Catatan seseorang yang dulu pernah aku kagumi, secara tak biasa. Sekarang..?? Ehem.. hehe. (Hayooo.. berhusnudzan-lah)
Catatan itu jadi rizkiku di malam ke tigabelas ramadhan ini. Ya, rizki yang indah. Mmm.. memangnya yang gituan bisa disebut rizki yaa..??
Seringkali kita kan begitu ya. Misalnya, janjian dengan seorang teman yang lama tidak bertemu. Ternyata tidak bisa terlaksana, karena satu dan lain hal. Kita menyebutnya, ”Belum rizkinya ketemu.” atau ”Belum jodoh.” J Mau ngomongin rizki.. tapi mulai dari awal dulu.. Meskipun awalannya sudah segini panjang..
Hari ni, terlalu bersemangat.. hohoho.. masih mempertanyakan. Adakah semangat yang disebut terlalu..?? hehe. Merencanakan hari ini dengan agenda yang berlompatan. Acara pertama di pagi hari. Ternyata, datang kepagian. Lumayan, bisa ngadem di dalam ruangan masjid Nurul Haq yang ber-AC. Keanehan tersendiri dari seorang Fian. Mau mendung, mau hujan, mau badai, tetep mencari suhu dingin. Brrr.. Sendirian di dalam ruangan masjid. Menikmati kesendirian, mencoba menghias lisan dengan lantunan qur’an. Menunggu..
Hingga berdatanganlah yang lainnya. Setelah ramai dan sang ustadz pun sudah berada di tengah-tengah kami. Lelaki setengah baya, dengan suara lembut dan berwibawa. Menyampaikan kepada kami, lima hal yang menjadi benturan bagi seorang mukmin. Tapi, bukan lima hal itu yang berhubungan dengan pengalaman kali ini.
Usai mendengarkan ustadz tersebut, semua melanjutkannya dengan keperluan masing-masing. Meninggalkan masjid. Ada yang perlu tidur, karenanya mereka pulang atau perlu bercengkrama dengan keluarga di rumah. Ada pula yang melanjutkan silaturahim ke rumah yang lainnya. Diriku, ke mall, setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di tempat nan ramai itu. Maklum, sedang tidak ada perlunya. Kali ini, sangat perlu. Mencari sepatu, sebagai ganti sepatu kerja yang sudah tak bisa dipakai tu. Bahkan, meski sudah berminggu-minggu, belum ada rizki punya sepatu baru. Tapi, masih rizki, pakai sepatu si adek. Sampai melar.. hehe. Syukur si adek baik hati.
Memarkir si Jupi di halaman belakang mall dan melepaskan helm, lalu menangkupkannya di kaca spion. Segera menaiki tangga dan menuju ke tempat, di mana rak sepatu berderet-deret dipajangi berpasang-pasang sepatu. Mesti cepat, soalnya keburu dzuhur. Setelah mencari, melirik, mencoba, ternyata ga ada yang cocok. Belum rizki.
Akhirnya, memutuskan untuk pulang saja. Kapan lagi deh baru nyari. Sampai di tempat parkir, langsung menuju ke tempat di mana Jupi biru kuparkirkan. Di dekat sebuah gardu pemadam kebakaran, di depan toko yang menjual bunga-bunga hias. Tempat parkir, tampak lebih penuh dari sejak kedatanganku tadi. Namun, tinggal tiga meter dari tempat Jupi parkir, langkahku terhenti. Mmm… kok helm di kaca spion ga ada ya..? Aku melangkah perlahan, mungkin aku lupa. Bukannya di letakkan di kaca spion, tapi di gantungan tempat biasanya menggantungkan bawaan. Mengeceknya di bagian itu. Tuing.. tuing..!! there is no helm there. Kembali terdiam, memandang ke sekeliling. Siapa tahu, tu helm menggelinding jatuh dan dipungut oleh seseorang kemudian meletakkannya di motor orang lain. Swiiiiiiiiiiiiiiiiing.. tak ade.. tak ade. Helm-ku raib, menjadi rizki bagi siapa yang menyimpannya entah dimana.
Teringatlah isi materi ceramah ustadz, di masjid tadi. Bahwa rizki adalah. Sesuatu yang kita makan, kemudian menjadi kotoran. Rizki adalah sesuatu yang kita pakai, hingga lapuk.
Kawan, jika kita sudah punya sepiring nasi, lengkap dengan lauk dan sambel nan lezat. Belum tentu, sepiring nasi campur itulah rizki kita. Kita tidak tahu, setelah makan enam suapan, tiba-tiba sakit perut karena tak tahan dengan pedasnya si sambal. Tersisalah di piring kita, nasi dan lauk yang tak sempat kita habiskan. Sesungguhnya, rizki kita sudah kita dapatkan. Lalu yang tersisa..?? Mungkin sudah saatnya menjadi rizki bagi orang lain atau buat si kucing.
Pernah diriku, begitu ingiiiiiiiiiin menikmati satu porsi es campur nan segar, waktu itu sedang shaum. Hanya berkata saja, di depan bapak dan mamak. ”Kayaknya enak, kalau ada es campur.” (hehe, tak pandainya bersyukur) Ga minta dibelikan siiih.
Kemudian, bapak pergi keluar dan pulang membawakan seporsi es campur yang kuinginkan. Alhamdulillaah. Saat itu, masih setengah jam sebelum berbuka. Aku memindahkan es campur dari plastik ke dalam sebuah rantang dan berniat menyimpannya di dalam lemari pendingin. Saat membuka pintu si lemari, tiba-tiba jatuhlah sesuatu dari atas lemari pendingin itu, menimpa rantang es untuk berbukaku. Seketika, rantang itu terlepas, jatuh dan es campur nan lezat, menjadi penghias lantai. Merah, kuning, hijau.. maniiiis. Cuma bisa diam. Hmm..
Kali ini, helm biru metalic-ku, yang mesti kubeli warna itu, karena kala membelinya tidak ada warna biru benhur, biru yang sama dengan warna si Jupi. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Yaa.. hanya tiga bulan menjadi rizkiku. Rizki.. rizki.. rizki.. telah tertulis ia di buku itu, lauh mahfudz. Ketika malaikat diperintahkan untuk meniupkan ruh kepada kita, yang masih berbentuk gumpalan darah. Tertulislah rizki itu dengan qadarnya. Tepat, tidak kurang tidak lebih. Karenanya, buat apa bersusah payah ngedumel atas kehilangan helm, yang sudah tertulis, jatuh tempo atas kepemilikannya. Lebih baik bersyukur.. Alhamdulillaah, jadi punya kesempatan mendapatkan rizki untuk memiliki helm baru. Biru benhur.. warna yang saat itu kucari, matching dengan warna si Jupi. YES..!!!
Related posts:









flpe knfub you porn wfmkcp c ok l tuv