Senin, 5 Juli 2010
Pagi ini, dengan sangat bersemangat. Menembus jaruman hujan yang terasa perih saat menyentuh wajah. Berusaha tak menghiraukan dingin yang terasa menembus persendian. Pula meluncur secepatnya di bawah rinainya. Sangat ingin segera menapak di sana. Tempat yang sudah dua pekan, benar-benar tak kulihat. Beberapa hari lalu sempat rasanya, ingin ke sana. Tapi, berpikir.. mau ngapain di sana..? Paling-paling juga, hanya menemukan kesunyian atau suara palu para tukang yang sedang merenovasi. Pokoknya, pagi ini, ingiiiiin segera memarkirkan si Jupi di halaman depannya.
Begitu sampai, huuuft.. masih sunyi. Tukang juga belum datang. Hanya sendiri dan akhirnya bisa menuliskan ini.
Sehari setelah pembagian raport. Sang Guru dah di rumah tuh. Menikmati liburan hari pertama. Dengan mencuci. Hehe. Libur tanpa mencuci, seperti garam tanpa sayur. Haha. Aneh banget dah. Sedikit demi sedikit, sang guru memasukkan pakaian-pakaian kotornya ke dalam mesin cuci. Tiba-tiba teringat olehnya seseorang, yang setiap kali mesti membuatnya mengelus dada. Karena tingkah polahnya yang mencuri perhatian. Mempesona pikir dan membuat sang guru senantiasa bertasbih dan sesekali beristighfar. Rindu itu datang, menyesak, hingga sulit bernafas. Beuh..!! Gayanya sang guru.. Mulai deh mata berkaca-kaca. Yaa Allaah.. sang guru jatuh cinta. Hiks.
Hari kedua liburan. Mulailah sang guru, sibuk menjelajah di dunia maya. Libur sambil lembur. Menyelesaikan beberapa tugas makalah dari para dosen tercinta yang harus selesai bila masa ujian tiba. Browsing.. searching.. chatting.. writing.. sekaligus dah dikerjain sama sang guru. Dalam kesibukannya, terlintaslah satu wajah. Putih tanpa cela. Senyumnya mampu membuat sang guru berpaling dari orang lain. Sapa merdunya setiap kali jumpa. Membuat sang guru, tak pernah sanggup menahan diri tuk memeluknya. Getar itu datang lagi. Hiks.. Rindu. Sang guru jatuh cinta dan sedang rindu.
Rabu. Hari itu sarapan nasi kuning, tanpa teh. Kebayang kalau di sekolah tiap hari ada teh hangat. Kalau di rumah, kok rasanya ga pengen teh ya..?? hehe. Habis sebungkus nasi kuning, sang guru melanjutkan tugas-tugas yang belum selesai tuuuuuuuuh. Tugas kok menggunung. Seperti ga kan pernah terselesaikan. Lanjuuuut aja dikerjakan. Karena mengeluh tak kan membuatnya membukit kan. Haha. Tugasnya, cari foto ekspresi wajah seseorang. Kemudian jelaskan emosi yang tergambar pada ekspresi foto tersebut. Hingga sampai pada satu wajah. Senyum itu, yang ga berhenti. Disana.. disini.. senyum selalu. Menghiasi setiap sudut memori. Teringat satu waktu, ketika pertama kali mulai ngobrol. Pemilik senyum yang humoris, ga henti-hentinya bikin tertawa. Huhuhu.. Rinduu.. Sang guru benar-benar jatuh cinta.
Baru juga tiga hari. Lengkaplah penderitaan sang guru. Didera rindu yang menghujam. Setiap hari, maka berkelebatanlah wajah yang dicintainya itu. Bahkan tidurpun, bayangan-bayangan itu selalu hadir. Menyebut nama yang dicintainya dalam do’a-do’a malamnya. Semoga senantiasa dalam keadaan bahagia.
Sang guru, rindu pada riuhnya celotehan. Serunya bermain dalam lingkaran cinta bersama kaki-kaki mungil itu. Inginnya, dari lingkaran inilah, lahir khalifah Allaah. Panglima setangguh Khalid bin Walid. Wanita setangguh Asma. Pengusaha sesukses dan sepemurah Abdurrahman bin Auf. Manusia-manusia sekaliber Asy Syahid Syaikh Ahmad Yassin atau Hamka. Amiin yaa Rabbal’aalamiin
Sang guru merindukan.. kebersamaan mereka di sebuah taman… Taman yang indah… Bergotong royong, mencabuti RUMPUT-RUMPUT JAHILI… Berjalan menapaki jalan-jalan ILMU ALAM SEMESTA INI… Duduk di bangku-bangku KEKELUARGAAN YANG SEJATI… Berteduh di bawah pohon-pohon KEINDAHAN BERBAGI… Bergandengan tangan menyenandungkan CELOTEH KEJUJURAN… Dan memetik bunga-bunga HIKMAH KEBENARAN… Sungguh… Indahnya kebersamaan bersama cinta ini.
Selasa, 13 Juli 2010
Masih sepekan lagi, masa bagi sang guru untuk mengungkap cintanya.. Hiks.. gerimis hati.. sang guru.. R*I*N*D*U
Related posts:









it’s ok