16 Ramadhan 1432 H
Manusia, menunjukkan tanda-tanda kerapuhan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Rusaknya moral pada sebuah generasi yang tentu saja belum terlambat untuk diselamatkan terlihat jelas dari bagaimana remajanya yang menikmati masa labil dengan banyak kesenangan tanpa arahan yang tepat dari orang tua. Sedangkan orang dewasanya, merasa berhak menampilkan kecurangan dan ketidakadilan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.
Kita bisa temukan hal yang menyimpang di sekitar kita. Bahkan ada tiga hal besar yang menjadi musuh utama remaja pada saat ini. Ialah pornografi, narkoba dan HIV. Ketiganya memunculkan banyak hal yang kemudian membuat kita miris. Dalam seminar pornografi, kita bisa mendapatkan satu angka mencengangkan, yang menggambarkan bagaimana kondisi remaja. Di mana semakin banyak remaja putri yang sudah kehilangan keperawanannya sejak SMP. Mungkin banyak orang tua yang akan berkata, “Yang penting bukan anakku.”
Berkali-kali pula negeri ini digegerkan oleh kasus video porno. Baik itu dilakukan oleh anak sekolah, mahasiswa bahkan artis. Semua menjadi berita dan masuk ke wilayah publik. Media pula mendukung berkembangnya kasus ini. Kemudian menimbulkan kasus-kasus baru di kalangan masyarakat. Adanya seorang anak yang berlaku tidak senonoh kepada anak tetangganya yang lebih muda, yang setelah diselidiki, ternyata ia melakukannya karena menonton sebuah video porno yang dilihatnya di HP sang ayah. Lalu kemudian kita dengan lega mengucapkan, “Untung bukan anakku.”
Banyak hal yang dahulu tabu, kemudian menjadi biasa. Karena begitulah setiap hari. Ia ada di hadapan kita, wira wiri tanpa henti. Awalnya ia menggelisahkan, menimbulkan kekhawatiran. Namun, banyak di antara kita yang kemudian membiarkan. Tidak peduli apalagi ambil pusing dengan peristiwa atau kejadian mengenaskan yang hadir di sekitarnya. Sedangkan itu mungkin akan berimbas kepada kehidupannya, anak-anaknya sampai cucunya. Hingga akhirnya gelisah itu ada yang berakhir dengan penyesalan. Mengapa begini..? Mengapa begitu..? Sedangkan pertanyaan itu sudah terlambat.
Setiap utusan Allaah, Nabi dan Rasul mengalami satu masa sebelum diangkat menjadi Nabi atau Rasul yang ditimbulkan dalam hatinya ‘GELISAH’. Gelisah akan penyimpangan dalam kaumnya. Gelisah atas kerusakan akhlaq di kalangan keluarganya. Gelisah atas banyaknya kemungkaran yang terjadi di sekitarnya. Kegelisahan itulah yang kemudian membuat seorang manusia pilihan seperti Muhammad menyepi di gua Hira. Kegelisahan yang mengantarkannya kepada fase selanjutnya, untuk diangkat menjadi Rasul. Lalu melakukan perbaikan di tengah-tengah umat yang merusak.
Untuk menjadi orang yang GELISAH, kita tidak perlu menjadi nabi atau rasul. Kegelisahan yang tepat akan muncul dari kejernihan hati yang memandang bahwa sesuatu sudah tidak berada pada tempatnya, ketika telinganya mendengar sesuatu yang sudah tidak sesuai dengan bunyi yang seharusnya.
Seorang pemimpin seperti Umar, gelisah dengan tanggung jawabnya atas rakyatnya. Sehingga ia rela memanggul karung demi tanggung jawab itu. Seorang Hasan Al Banna gelisah dan kemudian merasa bertanggung jawab dengan kondisi umat. Lalu dengannya muncul Ikhwanul Muslimin untuk menunaikan tanggung jawab itu.
Lalu.. tidakkah orang tua merasakan gelisah dan merasa bertanggung jawab, ketika membiarkan anak-anak mereka berpacaran. Tidakkah seorang guru juga gelisah dan kemudian tumbuh rasa tanggung jawab, ketika membuat muridnya kaya akan ilmu pengetahuan, namun miskin akhlaq..?
Tidakkah ada hal yang memunculkan kegelisahan dalam diri kita, kemudian merasa bertanggung jawab atasnya..?
Mmm.. saat kita berkeringat, bukankah itu menggelisahkan. Maka kita mengambil sapu tangan atau tisu untuk mengelapnya. Sewaktu, ada makanan yang ‘nyempil’ di sele-sela gigi, tentu itu menggelisahkan. Karena tanggung jawab atas kenyaman gigi, terletak di pundak kita. Lalu kita berusaha menghilangkan sisa makanan yang menggelisahkan itu dengan tusuk gigi.
*Sebuah gelisah akan bisa dirasakan oleh siapapun. Namun tidak semuanya merasa bertanggung jawab. Dan hanya mereka yang merasa bertanggung jawab itulah, yang kemudian melakukan sesuatu untuk menyingkirkan sumber kegelisahannya*
Related posts:






