Menceritakan pengalaman mengajar. Menuangkannya dalam satu artikel. Menumpahkan setiap tetesannya ke dalam untaian kata-kata, adalah menit-menit penuh gelora. Seperti menggenggam jutaan bintang, kemudian menebarkannya satu persatu. Hahaha.. aku memang suka ’lebay’ kalau bicara tentang murid-muridku. Para aktivis cilikku, teman-teman kecilku yang selalu penuh semangat dan membuatku makiiiiin bersemangat.
Hari-hari pelangi yang penuh dengan imaginasi. Warna-warni tanpa batas. Pokoknya maah.. seru abis.. Satu hal yang paling berkesan di 9 tahun mengajarku adalah bukan aku saja yang mewarnai. Namun, kami saling mewarnai. Kalau mau cerita dukanya.. rasanya tidak akan bisa kutemukan. Karena semuanya sudah lunas ditebus oleh sukanya. Mari kuceritakan beberapa suka itu..
Satu Suka.. Ketika mereka menemukan ilmu. Maka aku menemukan kecerdasan. Tulisan ini saya berikan kepada semua orang tua murid di semester satu, di tahun ke 7-ku mengajar di TK AL AULIYA Balikpapan.
Siapa yang menciptakan kita ? Anak-anak di kelas, pasti akan menjawab, “Allah…” Ya. Allah. Siapa lagi, kalau bukan Allah ? Namun, terkadang, kita tidak memikirkannya lebih dalam. Allah menciptakan manusia dengan sempurna. Dilengkapi dengan lima indera, yang membuat hidup kita, penuh dengan segala bentuk eksplorasi tanpa batas. Otak, yang sedari kita kecil berkembang. Seiring dengan semakin banyaknya ilmu dan pengalaman yang kita temui. Tulang, yang menyangga tubuh, hingga dapat berdiri dan bergerak dengan harmonis. Serta organ-organ, di dalam tubuh kita, yang tentu saja tidak kalah pentingnya. Setiap manusia normal, mendapatkan bagian yang sama. Seperti buah hati kita.
Dari mereka, saya bukan hanya menjadi seorang pengajar. Namun, sekaligus belajar. Para pemilik kaki kecil itu, menjadi semacam inspirasi dan motivasi bagi saya untuk berusaha lebih baik. Walaupun, tentu belum sempurna. Dalam satu semester ini saja, saya sudah menemukan dua puluh enam kecerdasan. Dimiliki oleh masing-masing pribadi secara unik. Bisa jadi, saya belum menemukan kecerdasan lain, yang mungkin mereka tunjukkan di rumah. Tapi, saya tidak bisa memungkiri, bahwa apa yang telah saya temui di sekolah, akan terus bertambah. Karena mereka telah diberi sebuah karunia besar oleh Allah. Yaitu, menjadi cerdas.
Cerdas, bukan hanya, ketika kita melihat huruf B atau angka sempurna pada lembar buku laporan perkembangan buah hati kita. Cerdas juga bukan, ranking satu dan menjadi juara. Cerdas adalah setiap hal yang membuat anak kita mampu memberikan pengaruh. Baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Cerdas menurut saya adalah, ketika Alza bisa menjadi pemimpin buat teman-temannya. Si imut ini, mampu mengendalikan siapa saja yang berada di dekatnya. Mungkin saja, suatu saat nanti, Alza akan menjadi seorang pemimpin wanita. Nanda, yang seingat saya akan membalik semua benda yang berada di dekatnya kalau sedang marah. Saat dalam kondisi normal, Nanda sangat sopan dalam berkata, suka menolong teman dan membantu ibu guru. Itulah yang saya sebut sebagai kecerdasan. Si lembut Annisa, yang bersuara pelan saat menjawab pertanyaan. Menjadi sangat penyabar, dalam menghadapi teman-temannya. Ariiq, yang sering kali menangis saat berebut tempat duduk. Ternyata terampil dalam beberapa kemampuan seni. Audrey yang seringkali berkeringat di hidungnya karena kepanasan. Bisa menyanyi, dengan yang tema lucu. Bahkan, Hanum yang kadang tidak mau berbagi. Selalu menjadi yang pertama, menghibur teman yang bersedih. Hasna, yang seringkali bertanya, saat saya sedang menyediakan bahan-bahan belajar. “Untuk apa, Bu ?”, “Bu Fian lagi ngapain?” Hudan, yang berkali-kali terlihat menggigiti dasinya. Sangat pandai membaca. Qashmal, yang di hari-hari pertama sering menangis, karena tidak dapat stiker. Pandai sekali menceritakan gambarnya. Joe, yang suka sekali dengan yang ‘terbalik’ (perintahnya duduk, Joe malah berdiri). Mampu menjawab hampir semua pertanyaan ibu guru. Bermacam-macam bukan ? Itulah kecerdasan.
Dana, yang selalu berteriak saat berbaris dan berdo’a. Mau membagikan bekalnya kepada semua teman. Naira, yang lamaa tidak bersama-sama kami. Mengandalkan gambar dengan tehnik titik-titiknya. Azwin ? Jangan menilai dulu. Azwin mungkin terlihat berjalan ke sana ke mari. Tapi, banyak hafalan yang ada di kepalanya. Hafidz, menghasilkan lukisan-lukisan indah. Kiki, yang kadang tidak masuk, karena sakit. Pandai bergaul dengan semua temannya. Faris, yang beberapakali tidak percaya diri pada karya buatannya. Sangat memperhatikan kebersihan. Beberapakali, Faris terlihat menyapu kelas yang kotor, tanpa di perintah. Naufal, yang paling tinggi diantara yang lain. Tahu penyebab asap yang beberapa bulan lalu menyelimuti kota. “Soalnya hutannya kebakaran, bu.” Kata Naufal. Puteri, berkali-kali tidak mau mencoba hal-hal baru. Namun, Puteri suka sekali menari. Afi, si pemilik senyum simpul itu. Mampu mewarnai dengan sangat baik. Banyak sekali ya. Itulah kecerdasan.
Raihan, yang suka bercerita tentang power ranger, pernah membuat puisi panjang. Via, yang tidak suka makan kue, sudah mulai mandiri dan suka sekali bahasa Inggris. Sahda, yang kadang-kadang meniru gambar temannya, mulai memperhatikan auratnya. “Bu, tolong baikin jilbab.” Kata Sahda, seringkali. Sandyfa, yang kalau ada undangan buat orang tua, selalu berkata. “Ibu saya kerja, bu.” Tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih. Ira, yang saat ditanya suka melamun, pandai sekali berhitung. Sarah, yang awalnya sering membentak temannya, mulai bersikap lembut. Dan kreatif dalam menyusun gambar dari potongan geometri. Dan Rizky, yang pandai bicara dengan kata-kata yang teratur, pandai sekali mengaji. Bagaimana ? Itulah kecerdasan.
Jangan pernah menilai mereka, dengan sejumlah angka. Atau memuji mereka, karena dapat piala. Mereka semua berbeda. Bahasa dan matematika, bukan itu saja. Kecerdasan ada pada jasad, pada akal dan pada ruh. Jangan pernah menuntut mereka untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Namun, temukan kelebihan dalam dirinya, yang dia sukai. Lalu, segera berikan fasilitas yang bisa mendukungnya. Jangan membandingkannya. Karena itu, membuatnya tidak menyukai dirinya sendiri. Ayah bunda…jangan pernah was-was. Karena, buah hati kita, semuanya cerdas. Insya Allah. Amiin.
Dua Suka.. Sekolah bukan tempat mengisolasi. Namun memperluas jaringan interaksi. Ini kisah di tahun ke 8-ku. Rasa berbagi.
Ada hari-hari tertentu, dimana kegiatan yang kami lalui adalah mendengarkan cerita dari sebuah buku yang mereka pilih bersama. Kali ini, mereka memilih sebuah cerita tentang seekor kupu-kupu yang malas dan sekelompok semut yang rajin menyimpan perbekalan. Singkat cerita kupu-kupu tak menemukan makanan dimanapun, hingga ia tak bisa terbang. Akhirnya dibantu oleh para semut, dengan diberi makanan.
Saat itu seluruh aktifitas di kelas bertepatan dengan tema ”alat komunikasi” dengan subtema ”surat”. Usai menceritakan kisah itu. Aku bertanya pada mereka,
”Naah.. bagus tidak teman-teman ceritanya ?”
“Baguuuuus bu guru.”, jawab mereka kompak.
”Bagaimana kalau kita mengirim surat untuk kakak yang menulis buku ini ?”
Aku melihat binar antusias di mata mereka. Semangat mendengar satu lagi pengalaman baru yang akan mereka lalui. ”Iya bu. Ayo bu, tulis suratnya.” Terdengar semua menyetujui ide itu.
Akhirnya, kami pun menyusun isi surat itu bersama. Isinya pendapat setiap siswa tentang kisah yang ada di dalam buku tersebut. Terbayang pastinya, isi surat mereka. Ungkapan-ungkapan yang lucu tentang buku dan isinya. Setelah selesai, kumasukkan surat itu pada sebuah amplop putih yang kemudian masing-masing murid menempelkan sebuah stiker berbentuk lingkaran dengan gambar wajah yang sedang tersenyum secara bergantian. Senang rasanya melihat mereka dengan penuh semangat berceloteh selama menyelesaikan surat itu.
”Nanti dikirim kemana bu ?”, tanya yang satu
”Kenapa sih bu, kita kok kirim surat ?”, tanya yang lainnya.
”Ini nanti dibalas ya bu ?”
Untuk pertanyaan ketiga itu, aku hanya bisa berkata, ”Insyaa Allaah. Kita berdo’a saja ya teman-teman. Semoga kakak-kakak penulis buku ini, sempat membalas surat kita.”
Syukurlah, jawaban itu sudah cukup memuaskan untuk mereka. Sehingga, selama proses pengerjaan surat tersebut, mereka tetap ceria dan antusias, sampai selesai.
Esoknya aku mengirimkan surat itu ke alamat penerbit yang tercantum di buku tersebut. Bismillaah.. semoga penerbit mau berbaik hati membalas surat sederhana kami. Supaya dapat kutunjukkan kepada teman-teman kecilku bahwa begitulah proses surat menyurat. Tau tidak apa kata petugas di kantor pos mengenai surat kami itu ?
”Hehe.. surat yang lucu, mbak.”
Yaaaaa.. siapa dulu yang buat. Murid-muridku. Hehe.
Kami, masih berada di kelompok A ketika mengirimkan surat itu. Beberapa bulan kemudian mereka lanjut ke kelompok B, dan kepala TK memutuskan aku menemani mereka hingga lulus nanti. Maka berlanjutlah hari-hari nan indah itu. Hari-hari dimana mereka melanjutkan proses metamorfosa di kelas kepompong kami. Bahkan dua teman kecil sudah pindah keluar kota mengikuti kedua orang tuanya. Kami pun, sudah melupakan surat itu. Fokus dengan kegembiraan dan kesenangan jelajahi ilmu pada buku semesta.
Hingga datanglah kiriman itu. Seorang ibu guru yang menerimanya dari pak pos. Lalu diberikannya padaku. Sebuah paket mungil yang terbungkus oleh sampul coklat. Tertulis namaku dan nama kelas kami dahulu ”Abu Bakar.” Hilang tanda tanyaku, setelah membaca nama pengirim paket. ”Alhamdulillaah.” Jeritku tertahan. Kuceritakan secara singkat kepada bu guru penerima paket yang sedari tadi pula tampak bertanya-tanya.
Langsung aku berlari menuju kelas kami.
”Teman-temaaaaaan.”
”Apaaaaa.”
”Bu guru hitung sampai lima. Semua berkumpul di depan bu guru. Bu guru punya kabar gembira.”
“Satu.. Dua.”, Aaaaah.. mereka sudah tak perlu menunggu sampai lima. Sudah rapi duduk di depanku.
Semua mata memandangku, senangnya jadi pusat perhatian bagi mereka. Hehe.
”Apa berita gembiranya, bu ?”, seorang teman kecil sudah tak sabar.
“Baiklah, ibu ceritakan. Teman-teman masih ingat buku tentang kupu-kupu yang malas dan semut-semut yang rajin ?”
”Masih bu. Waktu kita kirim surat itu kan, bu.”, jawab Nabila yang memang memiliki daya ingat yang sangat kuat.
”Ya, tepat sekali Nabila. Nah, jika kita mengirim surat, maka penerima surat akan membaca kemudian membuat sebuah balasan. Hari ini, surat kita dibalaaaaaas.”, dengan bersemangat kutunjukkan paket yang sedari tadi kusembunyikan di belakangku.
”Horeeeeeeeeeeee, alhamdulillaah.”, sejenak terjadi keramaian. Beberapa berdiri sambil berjoged. Dua murid perempuan berpelukan dengan erat sambil melompat-lompat. Seorang teman laki-laki, berlari berputar-putar dengan cepat.
“Hahaha.” Tawaku lepas. “Cukup teman-teman. Mau dibuka tidak balasannya ini ?”, tanyaku.
”Iya bu.. iya bu.”, segera mereka kembali ke tempat masing-masing.
Setelah kembali tenang. Aku buka perlahan-lahan sampul coklat yang membungkus paket tersebut dan tampaklah tiga buah buku dan sebuah surat. ”Waaaaaaaaaaaa… buku baruuu, seru mereka.” Sambil mereka bergantian melihat-lihat ketiga buku baru itu, aku membacakan surat dari penerbit yang mengucapkan terimakasih atas antusiasme teman-teman kelas Abu Bakar dalam membaca buku terbitannya. Atas rasa terimakasih itu, mereka mengirimkan tiga buku yang akan menambah jumlah buku di perpustakaan mini kami. Alhamdulillaah.
Kuceritakan tiga dan masih banyak yang lainnya.
Seorang teman saat SMA bertanya padaku. ”Kamu ga bosan ngajar di TK ?”, dan kukatakan bahwa setiap hari bersama teman-teman kecilku adalah sebuah perjalanan dengan roller coaster yang selalu berlangsung dengan ketegangan. Hehe. Kalaupun pernah bosan, cuma sekedipan mata. Dilanjutkannya dengan pertanyaan yang lain. ”Apa suka dukanya..??”, dan aku ceritakan suka dan duka itu.
Namun, setiap kali merenungkan kebersamaan kami di taman ini… Taman yang indah… Bergotong royong, mencabuti RUMPUT-RUMPUT JAHILI… Berjalan menapaki jalan-jalan ILMU ALAM SEMESTA INI… Duduk di bangku-bangku KEKELUARGAAN YANG SEJATI… Berteduh di bawah pohon-pohon KEINDAHAN BERBAGI… Bergandengan tangan menyenandungkan CELOTEH KEJUJURAN… Dan memetik bunga-bunga HIKMAH KEBENARAN… Sungguh… Indahnya bersama mereka.
Memang pernah ada duka yang kurasakan. Ternyata, setiap kali aku putar ulang film memoriku. Semakin aku merasa.. Seluruh SUKA telah melunasi setiap DUKA.. Bahkan.. BERLEBIH.. Alhamdulillaah.. Allaah.. Syukur tanpa tepi, atas setiap kebahagiaan ini.
Related posts:






