Hari itu, Nisa (bukan nama sebenarnya), di ajak oleh sang ibu untuk pergi ke sekolah. Meskipun libur, tapi ada pertemuan orang tua murid hari itu. Sekolahnya terletak di sebuah lereng perbukitan, di belakang deretan ruko.
Sampai di sana, sang ibu berkata, ”Nisa main dulu ya. Mama ada perlu sama bu guru.” Nisa mengangguk. Bermainlah Nisa. Anak berusia 5,4 tahun, melihat tanah yang sangat lapang, dan beberapa saung di sana. Nisa merasa sangat bebas. Sehingga ia belari berkeliling lapangan dan sesekali menghampiri saung-saung tempat teman-teman kakaknya sedang belajar.
Beberapa waktu kemudian, setelah lelah berlari, naik turun bukit. Nisa ingin menemui mamanya. Nisa berlari menghampiri saung tempat sang mama. Seorang guru melihatnya sedang berlari, menegurnya, ”Berjalan saja Nisa…” Nisa tetap berlari, dan tiba-tiba, ”Dugh.. Sruuk..!!” Nisa tersandung oleh sesuatu. Sebuah keran air yang dipasang ditepi tanah lapang. Keran itu patah dan mengucurlah air dari patahan pipa. Nisa menangis. ”Nah kaaaaan.. apa bu guru bilang. Dibilangin jalan aja. Sekarang gimana tuh baikinnya. Bu guru tidak mau tau. Ayo perbaiki, Nisa.” Sudahlah harus bangkit sendiri dari jatuhnya. Meringis, merasakan perih di lututnya. Harus memperbaiki pipa air yang patah pula. (Memangnya, Nisa tukang ledeng??) T_T

Seorang guru lain, melihat kejadian itu. Ia menghampiri Nisa, yang telah berdiri dari jatuhnya. ”Kenapa Nisa..?” Guru tersebut menegurnya dengan lembut. Nisa menceritakan kejadiannya. ”Ada yang sakit..??”, sang guru memegang bahu Nisa. ”Lutut Nisa sakit bu.”, tunjuk Nisa. ”Sini bu guru lihat.” ternyata tidak ada yang luka. Hanya sedikit merah pada lutut Nisa. ”Bu Guru mau bantu Nisa. Bagaimana cara menghentikan air yang mengalir ini ya, Nisa..??”, tanya sang guru. ”Di tutup ya bu..??”, jawab Nisa dengan satu pertanyaan. ”Ya, harus ditutup. Dengan apa ya, Nisa..?? Coba kita cari sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menutupnya.” Akhirnya, mereka menggunakan sebuah kain perca dan dilapisi dengan plastik. Kemudian diikat sementara pada patahan pipa. Nisa mengerjakannya, dibantu oleh bu guru.
***** @ *****
Amarah hanya akan membuatnya tak sanggup berpikir. Jangan harapkan amarah, akan membuatnya takut dan mampu bertanggung jawab dengan maksimal atas perbuatannya. Tidakkah amarah dapat di kekang sementara..?? Demi memberinya satu waktu untuk menemukan jalan keluar. Tidakkah ia berhak, menerima perhatian atas rasa sakitnya..?? Tidakkah ia boleh menemukan ilmu sambil memperbaiki apa yang ia rusak (bahkan tanpa sengaja??) Tahanlah amarah.. maka akan kita temuakan.. USIA DINI berkembang kecerdasannya. Kecerdasan..?? Bukankah itu yang kita ingin hadirkan..?? Akalnya akan membuatnya berpikir tentang Tuhan-nya.. semoga.. bantulah dia..
Semoga, kita adalah para dewasa yang diberi kesabaran tanpa batas. Sehingga mampu mendidik, tanpa amarah.. meskipun sedikit. Rabb.. bantu kami.. Amiin..
Related posts:








waktu kecil dulu paling asyik disuapin mama, tp cekayang dah gede mamam ndiyi…hihi
..duuh lagunya bunda melly lagi…oohh
Oooooo.. Alhamdulillaah.. pinternya ya.. mulai mandiri nak Budi ini..