Saat itu, saya lupa hari apa. Saya baru pulang dari sekolah. Saya agak heran, melihat tingkah adik saya, yang nomor empat. Sejak saya melewati pintu masuk rumah, dia terus memandangi saya, dengan sedikit tersenyum simpul. Akhirnya, saya ambil kesimpulan, pasti di dalam rumah kami, ada sesuatu yang baru. Keheranan saya, yang ditambah dengan rasa penasaran, yang amat sangat. Tak dapat menahan diri saya untuk menanyakannya.
“Iman, kenapa sih, kok senyum-senyum? Ada apa?”
Adik saya, Cuma menunjukkan senyum khasnya, yang selalu memamerkan gigi yang tumbuh kurang teratur.
“Ada apa sih, Iman ini ?” saya makin penasaran.
“He he, kita punya kucing baru lho, kak.” Kata Iman, masih dengan senyumnya.
“Kucing baru ? Dari mana ?” Iman menunjukkan tempat tidur, anggota keluarga baru itu, pada saya. Ternyata ibu saya telah menyediakan sebuah kotak kardus, dilengkapi dengan bantal kecil, dan tempat makan di depannya. Di dalam kardus, telah berbaring seekor makhluk lucu, dengan bulunya yang belang, abu-abu dan putih bersih.
Ternyata si Pusi – begitulah nama pemberian saya – adalah korban kecelakaan. Dia tertabrak oleh mobil seorang teman dari adik saya, saat pulang dari sebuah perjalanan antar kota. Setelah tertabrak, si Pus pincang, sehingga teman adik saya itu memutuskan untuk membawanya kedokter hewan, dikota kami. Menurut sang dokter, sepertinya si Pusi adalah kucing rumah. Karena bulunya yang bersih dan si Pusi sangat jinak. Singkat cerita, sampailah si Pusi dirumah kami. Rencananya, si Pusi beberapa hari kemudian akan dikembalikan ke tempat kecelakaan, agar dapat kembali ke majikannya. Namun, karena beberapa halangan, si Pusi tidak jadi dibawa pergi.
Jika dilihat, tidak ada bekas luka pada tubuh Pusi akibat dari kecelakaan tersebut. Namun, Pusi terlihat sangat lemah, dan tidak bersemangat seperti kucing pada umumnya. Beberapakali saya mencoba menggodanya, dengan memainkan sebuah tali di depannya. Saya yakin setiap kucing akan mengejar tali itu untuk bermain. Namun, tidak demikian dengan Pusi. Dia hanya memandangi tali tersebut, dan diam saja di tempatnya. Pusi juga tidak mau makan apapun yang kami sajikan untuknya. Ikan ? ogah. Ayam ? malas. Dimasak ? salah. Diberi yang mentah ? tidak disentuh. Hal ini, membuat kami sekeluarga kebingungan. Bagaimana tidak. Pusi kan saat ini ada bersama kami. Jadi, Pusi adalah tanggung jawab kami. Akhirnya, kami sekeluarga yakin Pusi mengalami luka dalam akibat kecelakaan itu. Kami tetap menyajikan makanan, yang menurut kami adalah makanan paling enak, bagi kucing manapun. Namun sayang, Pusi tidak juga menyentuhnya.
Yang paling saya suka dari Pusi adalah sifat jinaknya yang teramat sangat. Di manapun, kami duduk, maka Pusi akan menghampiri kami, dan menempelkan bulu halusnya pada kami, seperti berharap untuk dibelai. Dan belaian sayang, selalu mampir di kepala dan punggungnya yang berbulu sedikit lebih panjang dari bulu kucing tetangga. Bagi saya, kalau cuma diminta membelai, saya sanggup melakukannya berapa lamapun. Tapi, kalau Pusi sudah minta pangku. Maaf ya Pusi, saya paling geli kalau memangku kucing. Terkadang, saya harus mendorongnya untuk menjauh dari pangkuan saya. Dan seringkali, Pusi langsung pergi kalau sudah didorong begitu. Hiks. .jadi sedih juga sih. Habis gimana ? Saya kan, memang ga tahan tuh.
Beberapa hari sudah, Pusi hidup bersama kami. Dia seperti menjadi anggota keluarga, yang paling disayangi oleh seisi rumah. Dua adik saya yang paling kecil, yang setiap pulang sekolah biasanya hanya bermain. Sejak ada Pusi, sepertinya tak ada permainan yang lebih asik selain duduk didekat Pusi. Padahal, Pusi cuma mengajak bermain membelai bulu. Tapi, itu cukup menghipnotis kedua adik saya. Saya juga, kalau pulang sekolah, langsung menghampiri kardus, tempat tidurnya. Jika Pusi tidak ada disana, saya langsung menanyakannya pada orang rumah. “Pusi kemana ?”. Seluruh orang dirumah ini, sangat menyayanginya. Termasuk, kedua orang tua saya. Namun, Pusi, tetap tidak mau makan.
Hingga suatu hari, Pusi muntah beberapa kali didalam rumah. Demi menjaga kebersihan, ibu saya memindahkan tempat tidurnya, kebawah kolong rumah kami. Saat itu cuaca sedang tidak baik. Kedua adik saya, mulai menangis. “Pokoknya, kalau Pusi hilang, mama harus ganti. “ Saya yakin, masing-masing kami pada saat itu, merasa serba salah. Memasukkan Pusi, berarti mengotori rumah. Tidak dimasukkan, Pusi dalam keadaan lemah. Bisa jadi di luar sana, Pusi diserang oleh kucing liar. Malam itu, setelah hujan agak reda, sambil menangis, adik saya keluar rumah, memanggil Pusi. Pusi tidak ada di kardusnya. Tangis mereka bertambah kencang. Hiks lagi. . . saya jadi menitikkan airmata. Namun, esoknya Pusi telah kembali ke dalam kardusnya. Kardus itu dikembalikan kedalam rumah. Dan Pusi, semakin sering muntah.
Suatu hari, saya pergi kesebuah tempat wisata. Bersama beberapa teman, kami akan menginap selama semalam. Dalam perjalanan pulang. Tibalah berita itu. Pusi pergi. Allah telah mengambilnya kembali. Benar-benar Pusi cuma titipan. Pagi itu, sebelum kepergiannya, Pusi ditemukan tergolek lemah di tepi parit, di belakang rumah. Adik saya yang menemukannya, menggendongnya pulang. Memasukkanya kembali, kedalam kardus. Saat itu, Pusi mencoba untuk melompat keluar. Namun, Pusi sudah kehilangan tenaga. Hanya kepalanya yang lemah, digantungkannya di tepi kardus. Tiba-tiba, Pusi meregang, badannya terangkat, sebanyak tiga kali. Disaksikan oleh ibu, dan seorang adik saya, Pusi diam, untuk selamanya.
Pusi pernah menjadi bagian dari kami. Pernah menjadi sesuatu yang berharga buat kami. Semoga kami bukanlah orang-orang dzolim, yang membiarkannya hidup tanpa kasih sayang. Dan mati tanpa perawatan.
** Sayangilah siapa saja yang ada dibumi. Niscaya kalian akan disayang oleh yang ada dilangit.
Related posts:








