11 Ramadhan 1432 H
Pada zaman dahulu kala.. Waktu masih jahiliyyah. Ketika hati masih liar dengan segala keinginan dan kepentingannya. Ego meninggi. Sungguh masa itu sangat sulit mengendalikannya dengan segala perasaan dan pikirannya. Akal yang sok tau. Kemudian membangkang setiap pendapat dari wilayah hati yang terdalam. Dahsyatnya kejahiliyyah-an, adalah mudahnya tersakiti dan sulitnya memaafkan. Hiks.. Rabbaanaa Faghfirlanaa..
Sedikit saja lisan seorang teman mengatakan hal yang tidak disukai, maka ia menumbuhkan satu benci yang terang-terangan. Menyindir, menyebut suatu hal yang berbeda dari apa yang kita harapkan, itupun menjadi sebuah pemicu luka hati. Sedangkan, mungkin saja yang mengatakan tidak bermaksud menyakiti. Namun, sungguh.. Hati yang jahil itu tiada peduli. Pun setiap jumpa, hanya diiringi tatapan yang tak manis beserta senyuman sinis. Hiks.. Rabbanaa Faghfirlanaa.. Faghfirlanaa.. Faghfirlanaa..
Lalu datanglah hidayah. Cahayanya membenamkan gulita di persada hati. Sebuah fajar berlaku di ranah jiwa. Pelan namun pasti, benci itu surut. Ternyata, memaafkan itu mudah dan sakit hati itu sirna ditelan kelapangan. Betapa Allaah begitu sayangnya kepada setiap jiwa yang terpanggil dalam hidayah itu. Sehingga hatinya dikuatkan. Jiwanya didamaikan.
Namun, pun dalam kondisi sudah menerima hidayah. Kita sesekali masih bertingkah seperti sosok jahiliyyah yang kemarin tak suka disindir, kali ini merasa berhak untuk menyindir. Pribadi jahiliyyah, yang kemarin seringkali merasa di lukai oleh kata-kata orang lain, kali ini merasa perlu menghakimi orang lain. Sadar atau tidak, jiwa damai itu masih dihantui oleh kejahilan masa lalu. Hiks.. Rabbanaa Faghfirlanaa..
Sakit lama karena dilukai, berulang kali timbul tenggelam. Antara memaafkan dan mengingat derita hati. Antara membujuk hati untuk ridha dan kekesalan yang masih terukir di memori. Ingin bersikap ramah, namun bibir kaku, terasa berat menyungging selengkung
senyuman. Hiks.. Rabbanaa.. Faghfirlanaa..
Telah seberapa bersungguh-sungguhnya kita berjuang dalam hidayah. Apakah kemudian gerak berbenah itu perlahan saja atau cepat melesat di ketinggian nan mulia. Meninggalkan setiap benih jahiliyyah itu sejauh-jauhnya.
Sepertinya, yang di atas itu, hanya sebagian kecil yang muncul dari masa jahiliyyah-nya aku.. Kamu atau mungkin seseorang di luar sana. Mmm.. Atau aku saja deh… Hiks.. Rabbanaa.. Faghfirlanaa..
Teringat seorang shahabat Rasul, yang kala itu menyebut Bilal dengan kalimat ‘budak kulit hitam’. Sebutan itu membuat Rasuulullaah marah ketika mendengarnya, kemudian Rasul berkata, ‘Dalam dirimu, masih ada jahiliyyah’.
Hiks.. Manusia sekaliber shahabat Rasul saja, dalam dirinya masih ada jahiliyyah. Apalah lagi diriku, diri kita.. Hiks.. Rabbanaa faghfirlanaa..
Related posts:





