Delapan Ramadhan
Telah menceritakan ini, di hadapan teman-teman kecilku di kelas Laksamana Cheng Ho. Sebenarnya ada lanjutannya. Namun, kisahnya dengan hikmah yang sama. Semoga bermanfaat.
*****@*****
Di tepi sebuah hutan, hiduplah seorang pemuda. Pemuda yang istimewa. Namanya, si Kecil Mungil. Disebut seperti itu, karena tubuhnya yang kecil mungil. Kaki yang kecil mungil. Tangan yang kecil mungil. Kepala yang kecil mungil. Mata yang kecil mungil. Hidung yang kecil mungil. Bibir yang kecil mungil. Semua bagian tubuh yang tentu saja kecil mungil.
Di hari yang cerah. Kala langit biru bersih, si Kecil Mungil pergi bermain ke tepi sebuah sungai. Air sungai sungguh jernih. Si Kecil Mungil melempari batu-batu kecil dari tepi sungai ke arah arus air yang tidak deras. Hingga muncullah bunyi kecipak air yang terpecah. Saat itu, lewat seekor kuda yang kemudian melihat Kecil Mungil yang sedang bermain.
”Huahahahaha.. tubuhmu kecil sekali.”, kata si Kuda
”Lalu mengapa kalau tubuhku kecil..?”, Kecil Mungil menatap Kuda dengan pandangan tajam.
”Hehehe.. jangan tersinggung ya. Dengan tubuh sekecil itu, kau tidak akan bisa lebih cepat dariku, untuk sampai ke lembah sebelah sana.”, ejek si Kuda sambil terkekeh.
Kecil Mungil, memandang ke arah yang ditunjuk oleh Kuda. Lalu berkata,
“Siapa bilang begitu..? Tentu saja aku bisa lebih cepat.”, ujar Kecil Mungil.
”Hahahahaha.. aku ini, kuda tercepat di kelompokku. Makhluk sekecil dirimu, tidak akan mungkin mengalahkan kecepatanku. Kau ini, ada-ada saja.”, Kuda mencibir ke arah Kecil Mungil.
”Hmm.. kita buktikan saja. Bagaimana kalau pekan depan, kita berlomba cepat-cepatan. Siapa yang sampai lebih dulu di lembah, dialah pemenangnya.”, tantang si kecil mungil.
”Aku pasti menang, karena aku tinggi dan besar. Juga paling cepat. Kecil Mungil seperti dirimu ini, tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku.”, Kuda menyombongkan dirinya. ”Kita bertemu di sini pekan depan. Bersiaplah untuk kalah. Huh..!!”, Kuda memalingkan muka, dan berlalu pergi.
Dalam perjalanan pulang ke rumah. Kecil Mungil berpikir. Bagaimana caranya, aku bisa lebih cepat dari Kuda ya..?? Kecil Mungil terus berpikir.
(Pertanyaan ini aku ajukan kepada teman-teman kecilku, yang kemudian antusias memberikan jawabannya. ”Berpikir.. berpikir.”, kataku. ”Sepeda motor, bu.”. ”Berpikir.. berpikir.”, kataku lagi. ”Motor Rossi, bu.”, “Ayooo, berpikir lagi.”, pancingku. ”Pesawat jet, bu.”, “Terus berpikir.”, kataku. ”Mobil, bu.” dan beberapa jawaban yang lain)
Setelah diskusi pendek antara si Kecil Mungil dengan teman-teman kecilku. Maka diputuskan, Kecil Mungil akan menggunakan mobil sebagai alat balapannya dengan si Kuda.
Hari balapan tiba. Kuda telah sampai lebih dulu di tepi sungai. Dia melihat kedatangan Kecil Mungil yang berada di dalam sebuah benda aneh.
”Benda aneh apa yang kau pakai itu..?”, tanya Kuda.
”Ini namanya, mobil.”, jawab Kecil Mungil.
“Kau pikir bisa mengalahkan aku dengan benda kotak ini.”, Kuda meringkik, mengangkat kakinya tinggi, sambil menggeleng-geleng. “Ayo kita mulai saja. Tidak sabar aku melihat kau kalah. Huwahahaha.”
Balapan pun dimulai.
Kuda melaju lebih dulu. Dia berlari sekencang mungkin. Hingga dilihatnya, benda aneh yang disebut mobil itu, mulai mendekat.
Kecil Mungil menengok Kuda dari jendela mobilnya. “Kudaaaa, perhatikan ya, ini namanya gaaaaassssss.”, Kecil Mungil menginjak gas mobilnya agar berjalan lebih cepat dan sampai di lembah tujuan lebih dulu.
(By putrigee)
*****@*****
Orang-orang sombong, menggunakan otaknya hanya untuk mengingat kemampuan yang ada pada dirinya. Dan mereka hanya mengetahui, sebatas apa yang mereka mampu. Mereka tidak merasa perlu memiliki lebih dari yang dimilikinya. Karena, sudah cukup bagi dirinya. Sehingga ia, tak akan melihat ada kemampuan lain yang melebihi kemampuannya.
Sedangkan seorang yang terlepas dari kesombongan, menggunakan otaknya untuk mencari hal lain, yang akan membuat kemampuannya semakin baik. Ia menyadari bahwa kemampuannya bukanlah apa-apa. Bahwa, jika ia adalah puncak gunung, maka di atasnya ada langit. Jika ia langit pertama, maka ada langit yang kedua. Jika ia ada di langit kelima, sesungguhnya.. langit itu ada tujuh.
Related posts:







kesombongan memang menutup mata hati untuk terus belajar. Moga saya bisa mengendalikan diri dari sifat yang satu ini… Amin.
cerita kreatif karena ada selingan kisah nyata ketika mbak afi bertanya kepada teman2 kecilnya.
Amiin yaa Rabbal’aalamiin
Alhamdulillaah.. semoga sebuah kreatifitas yang bermanfaat bagi orang banyak..
Makasih bang Agito..
artikelnya sangat menyentuh kalbu. Kadang sifat hewani pada diri seseorang tiba-tiba muncul tanpa kita sadari. Namun semua itu bisa kita lawan dengan sifat rendah hati dan suka terhadap masukan2 dan kritik dan orang laen. Salam kenal…
Mas Adi> Yup, tepat. Kita ini makhluk yang berada diantara malaikat dan hewan. Kita bisa jadi seperti malaikat. Tapi, bisa juga jadi seperti hewa, bahkan lebih hina..
Salam kenal juga mas Adi.. terimakasih atas kunjungannya..
Semoga menjadi pertemanan yang bermanfaat..
Kesombongan hanya milik Tuhan. Manusia tdk pantas memakainya dalam kehidupan sehari-hari. Cerita yang inspiratif sekali Putri.
Mas Agus> Dan, iblis mengadobsi sifat itu. Hingga diusir dr surga. kala kita lepas dari ajakan2 syaithan ke arah keburukan (berjudi, selingkuh, mabuk, menipu dan lainnya) maka waktunya ia mengajak manusia untuk sombong atas kebaikan2 yang ada pada dirinya. Begitulah..
Terimakasih mas Agus atas kesediaannya mampir di blog saya ini. Semoga bermanfaat..