Setiap melihat Nabila, teringat dua kakaknya yang dahulu juga bersekolah di TK ini. Aaaah, walaupun saudara kandung. Allaah tetap menciptakan mereka dengan keunikan-keunikan tersendiri. Setiap kali aku menyadarinya, hanya ingin terus bersabar menunggu kemajuan Nabila. Semua akan indah pada waktunya. Ya kan..? ^_____^
Nabila memang mengalami kesulitan untuk mengenali huruf-huruf. Sehingga agak lambat perkembangan membaca dan mengajinya. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan. Nabila bukanlah teman kecil yang mudah menyerah. Bagaimanapun sulitnya Nabila mengingat huruf-huruf itu, Nabila tetap bersemangat mengaji dan belajar membaca. Meskipun mungkin, setiap kita yang memiliki buah hati yang akan masuk SD tanpa kemampuan membaca akan was-was dengan kondisi ini. Namun, bersabarlah. Masing-masing mereka punya golden moment yang berbeda.
Bercerita adalah kegiatan yang sangat disukai oleh Nabila. Sehingga, walaupun bu guru belum memanggilnya, teman kecil ini terus mengatakan, “Saya belum, bu. Saya belum, bu.” Bila tiba waktunya Nabila bercerita. Nabila punya banyak hal yang bisa diceritakan. Di depan atau hanya menceritakannya kepada bu guru seorang. Nabila akan bercerita tentang sekolah barunya. Di mana ia akan kembali satu sekolah dengan kakaknya. Menceritakan tentang hadiah yang kan diberikan abi-nya saat Nabila sudah SD nanti. Tentang mainannya yang banyak. Juga beberapa kisah fantasi yang menghiasi imaginasinya yang kaya.
Jika boleh berandai-andai. Andai Nabila sekarang sudah bisa membaca dan menulis, ia akan menuliskannya dan banyak sekali cerita itu. Bagus-bagus lho. Imaginasi murni. Tapi kan, ga boleh berandai-andai. *mendo’akan saja deh*
Di hari yang cerah, bu guru sedang mengobrol dengan Nabila, yang duduk sendirian. Setelah beberapa saat mengobrol, bu guru bertanya pada Nabila.
“Nabila kalau besar mau jadi apa..?”
“Jadi dokter bu guru, di tempat umi kerja.”
“Ooo.. hebat ya. Bisa bekerja sama dengan mama-nya dong.”, ia mengangguk. Umi Nabila bertugas di sebuah rumah bersalin.
Aku melanjutkan pertanyaanku, “Kalau jadi dokter itu, mesti bisa apa, nak..?”
“Harus bisa baca dong bu guru. Makanya nabila ikut les baca”, jawabnya dengan yakin dan tegas. “Trus harus bisa nulis juga.”, tambahnya.
Aku mengangguk. Nabila nampaknya sadar sekali dengan konsekuensi dari cita-citanya itu. Sehingga, dia menambahkan, tentang belajar yang tidak kenal henti sebagai hal yang mesti dijalaninya.
“Bu, kalau jadi dokter itu kayak apa sih..?”, tanyanya tiba-tiba.
“Kalau jadi dokter, dokter Nabila-nya mesti islam ya. Pakai jilbab, rajin shalat. Penuh kasih sayang, banyak senyum dan berbicara dengan leembut kepada pasiennya.”, jawabku.
“Ooo..”, Nabila menatapku dengan senyum. Lalu pergi meninggalkanku, untuk bermain bersama teman-temannya.
Kau akan jadi dokter nak. Amiin.
Berimaginasi kan buatmu berpikir lebih tinggi ananda. Kadang ia membawamu melayang jauh. Hingga lupa berpikir seuatu yang kan nyata di hadapmu. Bermimipilah, lalu bangun untuk berbuat sesuatu. Hidup tak kan bergerak maju, jika mimpi hanya kau simpan di ruang berpikirmu.
Related posts:






