Jum’at, 8 April 2011
Hari ini kesiangan euy. Mengantar Fathani dengan penuh suka cita dan semangat membara. Maksudnya, karena waktu kayaknya sudah sangat terlambat. Jadi perginya terburu-buru, tergesa-gesa dan ngebuuut. Hehee. Sampai di sekolah Fathani, adik bungsuku itu. Suasana gerbang sekolahnya sudah lengang. Semua sudah masuk ke dalam kelas. Terlihat sekali wajah adikku itu, tegang. Mungkin takut dimarahi oleh gurunya. Maafkan kakak ya dek..
Memasuki halaman parkir sekolahku. Ramai sekali. Banyak teman kecil yang sudah datang. Ada yang bergantungan dengan wajah ceria di tangga majemuk. Ada yang dengan gembira berayun dengan ayunan yang di dorong oleh teman kecil yang lain. Di teras kecil tempat kami biasa berbaris, ada beberapa teman laki-laki yang berkejaran. Pagi-pagi, pakaian mereka sudah basah dengan keringat. Sehat ya nak.
Jum’at itu, hari bersemangat. Seragamnya putih. Tapi, teman-teman jarang yang pulang dengan pakaian tetap putih. Selalu ada motif baru di baju mereka. Coklat, hitam, merah, hijau atau pink. Mereka selalu bisa menambahkannya dengan cara apapun. Welldone..!! ^^d
Aduuuuuh.. mau cerita apa coba..?
Itu lho. Tentang kejujuran. Siapa yang tidak menyukai kejujuran..? Adakah yang senang jika dibohongi..?
Ada satu teman kecilku, yang seringkali secara tidak terduga, mengeluarkan kata-kata ‘Ge Je’. Asalnya dari dunia antah berantah, yang semoga tidak seringkali ia bersentuhan dengan dunia itu. Ada saja kata-kata ‘bla..bla’ yang keluar dari mulut mungilnya. Kata-kata itu menarik perhatian bagi telinga-telinga mungil di sekitarnya. Lalu, dengan serta merta melaporkannya kepadaku. “Bu, si itu bilang ‘ini’.” Di lain waktu. “Si ini ngomong ‘anu’.” Laporan-laporan yang aku rasa ga ada hentinya. Anehnya, meskipun sudah banyak saksi yang melaporkan. Teman kecil satu ini, berkeras untuk tidak mengaku. Bahkan menunjuk satu ‘kambing kuning’. Kutangkap sebuah ‘dusta’ dari jawabannya yang pelan dan mata kecil yang tak berani menatapku, ketika sedang membela diri. Hmm.. Jujurlah sayang. Harapku.
Aku memintanya untuk duduk di dekatku. Lalu kukatakan, “Sayangku, Allaah suka anak jujur. Semua orang, suka anak jujur. Bu guru, suka anak jujur. Teman-teman juga suka anak jujur. Kau mau juga kan disayang oleh semuanya..?”, tanyaku sambil menatap di kedalaman matanya yang mengerjap. “Mau bu guru.”, jawabnya dengan suara lemah sambil menunduk. “Anak jujur berkata benar, anak jujur itu terus terang atas apa yang terjadi. Anak pemberani, adalah anak yang mengakui kesalahannya.”, lanjutku sambil memegang tangannya. Aku lihat perubahan pada mimik wajah teman kecil yang selalu bergerak dengan gesit itu. Waktunya, pertanyaan terakhir. “Jadi, tadi bilang ini ya nak..?”, sambil kuangkat dagunya. Satu.. dua.. tiga.. di detik ke empat, ia bersuara, “Iya bu. Saya tadi ngomong begitu. Maaf ya bu.” Sesak di dadaku meringan. Lega rasanya menembus pertahanannya. “Kamu hebat sayang, seorang pemberani.” Aku menatapnya dengan senyum. Matanya penuh kaca, hampir menangis. Hanya bisa kuberi sebuah pelukan dengan terus memuji kejujurannya.
*Kejujuran.. satu produk langka, di antara banyak dusta dunia. Pahit di awal, manis di ujung. Jika berat untuk berkata jujur demi orang lain. Maka setidaknya. Jujurlah kepada dirimu sendiri*
Related posts:







Salut mbak .. insya Allah bijak deh kalo punya momongan
… biasanya orang dewasa begitu nangkap basah anak2 langsung dikasih wejangan “E, ndak boleh begitu, berdosa … jangan …” … bla10… tp mbak bisa menyikapinya dengan sangat positif. Harusnya semua guru (dan orang dewasa lainnya .. termasuk .. ehm .. saya .. ehm .. jadi malu …) seperti itu … Teruslah positif mbak … tetaplah ‘menikmati dunia pendidikan’ … tidak semua guru menikmati profesinya. Banyak yang jadi guru untuk cari uang seperti pegawai2 lain, mereka tidak menikmatinya makanya mereka tidak bisa bersikap positif.
Wassalam,
Mugniar