“Jar, sini kita main.”, kata seorang teman padanya.
“Kamu pernah ke mall, Jar..?”, seorang teman lain bertanya.
“Kamu sudah makan, Jar..?”, Tanya yang satu lagi.
“Lho..? Jar itu siapa sih teman-teman..?”, tanyaku.
Beberapa di antara teman-teman kecil menggunakan nama itu pada seorang di antara mereka.
“Zahran bu.”, jawab seseorang.
“Namanya kan Zahran. Kok jadinya Jar..?”, aku memandang mereka satu persatu. Bukannya menjelaskan, mereka malah saling berpandangan sambil tersenyum-senyum.
Aku menegaskan, “Sebut namanya yang jelas ya, teman-teman. Karena semua kita ini, diberi nama oleh orang tua kita sebagai do’a. Kalau namanya diganti. Jar, itu kan kita tidak tahu artinya. Panggillah teman kita dengan sebutan yang baik.”, semua hanya mengangguk. Sedangkan pemilik nama itu, Zahran, hanya tersenyum memandangku.
Zahran ini, teman kecil yang pengetahuannya luas. Jika ibu guru sedang menceritakan sesuatu. Maka, Zahran akan serta merta menimpali, melanjutkan bahkan melengkapi apa yang tengah ibu guru ceritakan. Terutama ketika ibu guru bercerita tentang Nabi dan Para Sahabat Rasul. Terakhir, waktu kelas kami sedang membahas tentang planet-planet. Teman kecil bertubuh sehat itu sudah mengetahui lebih dahulu sebelum bu guru mulai bercerita. Selidik punya selidik, ternyata, Mama Zahran rajin bercerita kepada Zahran dan adiknya. Sehingga pantas saja, pengetahuan Zahran itu sangat luas. Teman kecil ini juga rajin mengulang apa yang dijelaskan oleh bu guru di kelas.
Pernah niih, kami akan pergi ke taman, dengan membawa buku tulis dan pensil. Teman-teman kecil sangat antusias menantikan aba-aba dari bu guru untuk bisa segera menuliskan sesuatu. Kami menyebutnya berburu kata. Di taman depan sekolah, bu guru sudah menebarkan kertas-kertas yang bertuliskan sebuah kata. Setelah dihitung hingga tiga, semua segera berhamburan menuju ke taman. Dalam waktu lima belas menit, beberapa teman kecil sudah mampu menemukan semua kata yang diminta. Termasuk Zahran. Lalu, satu di antara mereka menyerahkan bukunya, “Sudah bu.”, katanya. Aku memeriksa bukunya. Hmm.. di buku itu, hanya ada huruf-huruf yang tidak membentuk satu katapun. Padahal, teman kecil ini, sudah bisa membaca. Sepertinya, ia belum paham dengan perintahnya. Aku meminta Zahran untuk menunjukkan caranya kepada teman kecil tersebut. Zahran mengangguk mantab.
Terlihat beberapa kali Zahran menunjuk-nunjuk ke tiang, pohon, batu yang telah bu guru tempelkan kertas berisi sebuah kata itu. Sesekali ia, menunjuk ke buku teman yang sedang dibimbingnya. Semua dilakukan dengan penuh kesabaran. Zahran menemani teman kecil itu, hingga menemukan semua kata. Selama hampir 20 menit.
Subhaanallaah.. Ah, ternyata Zahran itu, selain pembelaJAR ia juga pengaJAR.
Related posts:







Subhanallah ya .. satu mutiara lagi tampak kilaunya …
Alhamdulillaah..