Masih seputar aktifitas penyusunan PTK (Penelitian Tindakan Kelas), si tugas akhir.
Sabtu kemarin, mesti menghadiri seminar yang pembicaranya adalah dosen pembimbing kami dari Universitas Palangka Raya. Seorang guru besar yang tiga kali menemani kami di bangku belajar kami yang kian lapang, dikarenakan adanya beberapa jiwa yang berguguran di jalan kampus. Sorenya direncanakan kami akan menyaksikan ujian PTK dua teman kami.
Setelah seminar, aku pulang untuk mengambil proposal PTK yang katanya akan sekaligus dibahas setelah ujian kedua teman kami. Aku datang terlambat sore itu, karena printer di rumah, ternyata kehabisan tinta. Menuju ke kampus dengan harapan di tengah jalan bisa menemukan warnet tempat nge-print. Nyatanya, itu tak tercapai. Sedangkan aku sudah keliling-keliling sekitar kampus. Akhirnya, benar-benar terlambat sampai di kampus. Hasilnya, keterlambatan itu tidak membuatku rugi. Hehe. Ujian dan bimbingan dilaksanakan pada esok harinya, Ahad jam 09 : 00. Lega.
Telah merasakan, bagaimana repotnya menyusun pernak-pernih PTK ini. Mencari teori yang pas, menyusun kata-kata yang ilmiah, menyusun rencana tindakan, menyiapkan lampiran, memperhatikan page layout, penulisan BAB, SUB BAB dan lain-lainnya. Sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa. Sekaligus jadi lebih sering berharap ‘ada seseorang’ yang bisa menemani menjalani ini semua. Berhubung dipicu oleh cerita-cerita teman yang PTK-nya diketik suami-lah, suami yang ngedit-lah, suami yang jagain anak-lah, suami yang inilah, itulah, anulah.
Well, ikut senang deh. Hingga di hari Ahad esoknya, aku menemukan kenyataan yang menjadi sebuah renungan kembali atas ‘harapan-ku’ tadi.
Kedua teman yang akan menjalani ujian PTK, adalah dua orang ibu muda, lebih muda dariku. SI A, punya dua anak, satu diantaranya masih bayi. Sedangkan si B, beranak satu.
Sabtu itu, banyak bagian dari PTK si A yang menurut saran dosen pembimbing, mesti direvisi. Maka malam Ahad/minggunya ia bergadang, saat suaminya yang berulangkali ia telpon untuk pulang, tidak juga kunjung datang. Hingga jam 04 : 00 pagi, ia berjalan sendiri menuju warnet yang cukup jauh dari rumahnya dengan berjalan kaki, untuk menge-print PTKnya yang sudah diperbaiki. Sedangkan anaknya ia tinggalkan di rumah dijaga oleh adiknya yang masih remaja. Ia pulang dari warnet dengan tetap berjalan kaki dan sampai di rumah dengan kekecewaan, sang suami belum juga pulang. Ahad pagi itu, aku menyaksikannya dia diantar ke kampus dengan diiringi ‘omelan’ sang suami dari atas motor. (terdengar dari tempatku duduk menunggu pagi itu) Dia mendekatiku dan meminta tolong untuk menyusun lembaran PTK-nya yang masih berantakan. Wajahnya kuyu, pakaiannya nampak tidak disetrika dengan sempurna. Dan sepanjang aktifitas menyusun itu, ia menceritakan ‘penderitaan’-nya selama menyusun PTK. Hiks.. Hiks..
Belum usai ibu muda A itu bercerita. Datang teman yang satu lagi, si B. Ia juga akan menjalani ujian PTK hari itu. Ia muncul dengan wajah segar dan penampilan sangat rapi, diiantar oleh suami dan anak laki-lakinya dengan senyuman. Semua perlengkapan ujiannya sudah tersusun dengan rapi dalam map-map hijau. Ia menegur kami dengan ceria. Sabtu kemarin ia menceritakan kepadaku tentang bagaimana PTK-nya ia sendiri yang mengetik. Namun, bagian peng-editan dilakukan oleh suaminya tercinta. Bahkan, powerpoint untuk presentasi pun dibuatkan oleh suaminya. Tinggal beres saja dan mempersiapkan diri untuk menguasai materi penelitiannya.
KONTRAS..
Menjadikan harapan-harapanku membumbung tinggi. “Aku ingin yang terbaik yaa Allaah.”
*Masih bisa ngerjain sendiri*
Setiap kita akan mungkin hidup pada posisi yang sama. Namun, semua tentu di letakkan pada kondisi yang berbeda. Di antara yang berbedakondisi itu, masih pula dibedakan dari bagaimana setiap kita mengolah kondisi demi menghasilkan solusi yang indah dan sikap yang cantik.
Related posts:






